News

Resmi Dilantik, Xiomara Castro Jadi Presiden Perempuan Pertama Honduras

Kemenangannya menandai berakhirnya 12 tahun pemerintahan Partai Nasional sayap kanan yang tercoreng skandal dan tuduhan korupsi.


Resmi Dilantik, Xiomara Castro Jadi Presiden Perempuan Pertama Honduras
Xiomara Castro resmi dilantik sebagai presiden Honduras pada Kamis (27/1). (Korea Times)

AKURAT.CO, Xiomara Castro resmi dilantik sebagai presiden wanita pertama Honduras pada Kamis (27/1). Ia pun harus menghadapi krisis politik yang mengancam rencana pemerintahannya untuk negara miskin tersebut.

Dilansir dari BBC, Castro berjanji untuk menangani mafia narkoba yang kuat dan meliberalisasi undang-undang aborsi yang ketat. Namun, agendanya telah dirusak oleh perseteruan di Partai Libre.

Saat berpidato dalam upacara pelantikannya, wanita 62 tahun itu mengakui harus memimpin negara yang 'rusak'. Namun, ia berjanji untuk mengejar keadilan sosial dan transparansi.

baca juga:

Suami Castro, Manuel Zelaya, memerintah Honduras pada 2006 hingga digulingkan melalui kudeta pada 2009. Castro pun mencalonkan diri dua kali setelah suaminya lengser, kemudian menang Pemilu pada November lalu.

Sejak itu, Castro menuai dukungan masyarakat. Kemenangannya menandai berakhirnya 12 tahun pemerintahan Partai Nasional sayap kanan yang tercoreng skandal dan tuduhan korupsi.

Upacara pelantikannya di stadion nasional di ibu kota Tegucigalpa pun dihadiri ribuan orang.

"Bencana ekonomi yang saya warisi tak ada bandingannya dalam sejarah negara kita. Namun, pemerintah saya tak akan melanjutkan pusaran penjarahan yang telah membebani generasi muda untuk membayar utang yang mereka tinggalkan setelahnya," janji Castro.

Jadi, ia menyoroti perlunya merestrukturisasi utang nasional.

Castro menggantikan presiden yang memecah belah, Juan Orlando Hernandez. Pria itu telah dirundung tuduhan perdagangan narkoba usai saudaranya dipenjara karena penyelundupan di Amerika Serikat (AS). Namun, klaim ini dibantahnya berulang kali.

Sementara itu, Castro menjabat di tengah perselisihan dengan pembangkang di partainya sendiri.

Presiden wanita pertama di Honduras ini telah bersepakat dengan capres lainnya, Salvador Nasralla, agar mundur dari persaingan untuk memperkuat peluang Castro untuk menang. Sebagai imbalannya, Castro berjanji mendukung Luis Redondo dari partai Nasralla sebagai pemimpin Kongres. 

Namun, sekelompok anggota parlemen dari Partai Libre, partai Castro, berkhianat. Alih-alih mendukung kandidat yang disepakati, mereka malah bersekutu dengan Partai Nasional untuk memilih salah satu anggotanya sebagai pemimpin Kongres.

Akibatnya, kedua kandidat sama-sama menyatakan diri sebagai ketua Kongres. Kebuntuan ini pun dapat mengakibatkan lumpuhnya legislatif. []