News

Rencanakan Batasi Harga Minyak, G7 Siapkan Sanksi yang Lebih Keras untuk Rusia

G7 bertekad untuk meningkatkan tekanan pada Rusia tanpa memicu inflasi yang sudah melonjak.


Rencanakan Batasi Harga Minyak, G7 Siapkan Sanksi yang Lebih Keras untuk Rusia
Batas harga bisa memukul jantung perang Kremlin sambil benar-benar menurunkan harga energi. (REUTERS)

AKURAT.CO Negara-negara kaya G7 akan berkomitmen pada Selasa (28/6) atas paket baru tindakan terkoordinasi untuk meningkatkan tekanan pada Rusia atas perangnya di Ukraina. Mereka juga akan menyelesaikan rencana pembatasan harga minyak Rusia.

"Tujuan ganda para pemimpin G7 adalah untuk membidik langsung pendapatan Presiden Rusia Vladimir Putin, terutama melalui energi, begitu juga untuk meminimalkan limpahan dan dampak pada ekonomi G7 dan seluruh dunia," ungkap seorang pejabat senior Amerika Serikat (AS) pada Senin (27/6) di sela KTT tahunan G7, dilansir dari Reuters.

Menyumbang hampir setengah dari output ekonomi dunia, G7 bertekad untuk meningkatkan tekanan pada Rusia tanpa memicu inflasi yang sudah melonjak, terutama yang merugikan kawasan selatan global. Batas harga bisa memukul jantung perang Kremlin sambil benar-benar menurunkan harga energi.

baca juga:

"Para pemimpin G7 juga akan membuat komitmen keamanan jangka panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyediakan Ukraina dengan dukungan keuangan, kemanusiaan, militer, dan diplomatik selama diperlukan, termasuk penyediaan senjata canggih tepat waktu," bunyi lembar fakta Gedung Putih.

Sanksi Barat telah memukul keras ekonomi Rusia. Langkah-langkah baru ini pun ditujukan untuk semakin merampas pendapatan minyak Kremlin. Negara-negara G7 akan bekerja sama dengan negara lain, termasuk India, untuk membatasi pendapatan yang dapat terus dihasilkan Putin, menurut otoritas AS.

"Berita pagi ini seputar temuan kegagalan Rusia, untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad, menunjukkan seberapa kuat tindakan yang telah diambil AS bersama sekutu dan mitranya, serta seberapa dramatis dampaknya pada ekonomi Rusia," pungkas pejabat itu.[]