News

Rencana Putin Bocor, Bakal Kabur ke Negara Ini jika Rusia Kalah Perang di Ukraina

Rencana Putin Bocor, Bakal Kabur ke Negara Ini jika Rusia Kalah Perang di Ukraina
Mantan penulis pidato Kremlin, Abbas Gallyamov, mengeklaim Presiden Rusia Vladimir Putin akan melarikan diri ke Venezuela jika Rusia kalah perang di Ukraina. (Newsweek)

AKURAT.CO Presiden Rusia Vladimir Putin punya rencana melarikan diri ke Venezuela jika Rusia kalah perang di Ukraina, menurut Abbas Gallyamov, mantan penulis pidato untuk pemimpin Kremlin.

Gallyamov yang juga merupakan seorang analis politik itu mengaku mendapatkan bocoran informasi tersebut dari sumber tepercaya. Menurut sumber tersebut, Kremlin telah mengembangkan rencana cadangan sejak musim semi terhadap potensi kekalahan di Ukraina, termasuk menyelamatkan Putin dan para pemimpin puncaknya ke Venezuela.

"Saya biasanya tak membocorkan cerita orang dalam. Namun, saya akan mengecualikannya hari ini. Pertama, saya sangat mempercayai sumbernya. Kedua, informasi ini sangat menarik," tulis Gallyamov di Telegram pada Rabu (7/12), dilansir dari Newsweek.

baca juga:

Menurut Gallyamov, proyek ini dijuluki 'Bahtera Nuh'. Argentina dan Venezuela diduga menjadi pilihan utama bagi Putin untuk melarikan diri. Namun, China sempat dipertimbangkan di awal diskusi.

"Seperti yang tersirat dari namanya, Bahtera Nuh bertujuan menemukan tanah baru, tempat Anda tuju jika Tanah Air Anda menjadi sangat tidak nyaman. Rombongan pemimpin tak menepis kemungkinan kalah perang, kehilangan kekuasaan, sehingga harus segera mengungsi ke suatu tempat," klaim Gallyamov.

Menurut pria yang telah tinggal di pengasingan di Israel sejak 2018 ini, yang bertugas mengatur segalanya di 'lapangan' untuk potensi evakuasi ke Venezuela tersebut adalah Yury Kurilin, wakil presiden sekaligus kepala staf perusahaan energi Rusia, Rosneft.

"Di musim panas, ia secara resmi mengundurkan diri dari Rosneft dan sekarang mengabdikan diri sepenuhnya pada 'Bahtera Nuh'. Ia memiliki kewarganegaraan AS dan koneksi yang baik. Ia lulus dari Universitas Hayward di California dan bekerja di konstruksi BP, termasuk di posisi tinggi direktur urusan perusahaan," sambungnya.

Namun, berdasarkan penelusuran Newsweek, Kurilin masih terdaftar sebagi wakil presiden dan kepala staf Rosneft di berbagai laman, termasuk laman profil perusahaan di Wall Street Journal.

"Sayangnya, sumber saya tak mengetahui detail lainnya. Namun, yang telah dikatakannya bisa cukup dipahami. Ketika Rusia mengatakan 'semuanya berjalan sesuai rencana', masuk akal untuk meyakini bahwa mereka punya lebih dari satu rencana," pungkasnya.[]