Ekonomi

Rencana Kenaikan Cukai Rokok Kebijakan Ugal-ugalan yang Buta Realitas

wacana kenaikan cukai adalah kebijakan ugal-ugalan dan tidak melihat realitas saat ini


Rencana Kenaikan Cukai Rokok Kebijakan Ugal-ugalan yang Buta Realitas
Diskusi penolakan kenaikan cukai 2022, seluruh elemen mata rantai industri hasil tembakau (IHT)bersama media di Jakarta, Senin (20/9/2021). (Dok Istimewa)

AKURAT.CO Pemerintah dikabarkan akan kembali menaikan cukai rokok, hal tersebut berkaca dari buku II Nota Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022.

Dalam rencana tersebut, target penerimaan cukai dibidik meningkat pada 2022 mendatang. Dalam dokumen tersebut, pemerintah menargetkan tarif cukai rokok menjadi Rp203,92 triliun. Angkanya naik 11,9 persen dari prospek tahun ini.

Melihat hal tersebut, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) bersama mata rantai Industri Hasil Tembakau (IHT) secara tegas menolak kenaikan cukai.

Koordinator KNPK, Muhammad Nur Azami menegaskan bahwasanya suara penolakan ini menyuarakan suara arus bawah tentang realitas kondisi IHT sedang carut marut.

"Petani kondisinya susah, pedagang juga merasakan hal yang sama, konsumen juga daya belinya lemah. Semua sedang susah, maka wacana kenaikan cukai adalah kebijakan ugal-ugalan dan tidak melihat realitas saat ini,” tegas Azami dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/9/2021).

Padahal kondisi perekonomian masyarakat baru saja mulai bergeliat setelah PPKM di beberapa daerah dilonggarkan. Jadi seharusnya hal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk mendorong konsumsi masyarakat.

"Seluruh rantai industri rokok pada akhirnya ikut hancur saat daya beli konsumen tidak sanggup mengejar kenaikan harga rokok. Ketika kondisi serba sulit seperti sekarang, pemerintah harus terus berupaya agar daya beli konsumen dan tingkat konsumsinya pulih. Kemampuan konsumen ini yang akan jadi roda penggerak seluruh rantai industri," ucapnya. 

Oleh karna itu, tambahnya, kami berharap pemerintah dapat melihat realitas di lapangan bahwa saat ini para petani tembakau sedang berjuang untuk bertahan di masa pandemi dan menghadapi tantangan kondisi iklim yang sulit. 

Senada dengan Azmi, Sudarto selaku Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (FSP RTMM) SPSI, mengungkapkan industri selama hampir 10 tahun terus mengalami penurunan.