News

Relawan Derita Gangguan Saraf, Peru Hentikan Uji Klinis Vaksin China Sinopharm

Peru telah menangguhkan uji klinis vaksin COVID-19 China, Sinopharm setelah otoritas setempat menemukan masalah neurologis pada salah satu sukarelawan uji coba.


Relawan Derita Gangguan Saraf, Peru Hentikan Uji Klinis Vaksin China Sinopharm
Uji klinis vaksin Sinopharm di Peru telah dihentikan untuk sementara waktu (AFP/ERNESTO BENAVIDES)

AKURAT.CO, Peru telah menangguhkan uji klinis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi raksasa China, Sinopharm. Keputusan ini muncul setelah otoritas setempat menemukan masalah neurologis pada salah satu sukarelawan uji coba.

Mengutip Channel News Asia, keputusan itu diumumkan oleh Institut Kesehatan Nasional Peru (INS) pada Jumat (11/12) pekan lalu.

Saat itu, INS pun memastikan bahwa ada seorang sukarelawan Sinopharm yang mengalami gangguan neurologis atau sistem saraf. Gangguan termasuk bahwa korban mengalami kesulitan menggerakkan lengan.

Hingga kini belum diketahui secara jelas identitas relawan yang dimaksud. Namun yang pasti, pihak terkait menyebut bahwa relawan itu menderita sindrom Guillain-Barre.

"Beberapa hari yang lalu kami memberi isyarat kepada otoritas regulasi bahwa salah satu peserta kami (dalam uji coba) menunjukkan gejala neurologis yang sesuai dengan kondisi yang disebut sindrom Guillain-Barre," kata kepala peneliti, German Malaga.

Sindrom Guillain-Barre sendiri dikenal sebagai kelainan langka yang memengaruhi pergerakan lengan dan kaki. Meski bisa menyebabkan kelumpuhan, sindrom ini dikatakan tidak menular.

Pada Juni tahun lalu, Peru sebenarnya juga menghadapi sejumlah kasus serupa. Saat itu, otoritas setempat juga sampai mengumumkan keadaan darurat kesehatan sementara di lima wilayah di Peru.

Relawan Derita Gangguan Saraf, Peru Hentikan Uji Klinis Vaksin China Sinopharm - Foto 1
 Swissinfo

Lalu, pada tahun 1970-an, Amerika juga diketahui sempat mengalami fenomena serupa di masa vaksinasi flu babi. Kala itu, penderita yang mengembangkan sindrom bahkan dikatakan mencapai hingga sekitar 450 orang.

Terlepas dari masalah sindrom Guillain-Barre, uji klinis Sinopharm di Peru diketahui melibatkan 1.200 relawan. Dengan ribuan relawan yang telah dites, uji klinis pun dijadwalkan akan rampung pada pekan ini.