Ekonomi

Relaksasi DP 0% dan Efektivitas Dongkrak Perekonomian

Relaksasi DP 0% dan Efektivitas Dongkrak Perekonomian
Webinar Akurat.co bertemakan 'Relaksasi DP 0% Sebagai Senjata Utama Peningkatan Kredit', di Jakarta, Rabu (7/4/2021). (AKURAT.CO/Denny Iswanto)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mengklaim relaksasi uang muka atau down payment (DP) rumah 0% telah mendongkrak tingkat pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perbankan. Khususnya pengajuan KPR di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang menurut data miliknya, naik hingga 40%.

"Di dalam penerapan ketentuan DP 0% ini khususnya oleh bank HIMBARA menunjukkan adanya suatu peningkatan yang signifikan dari aplikasi Kredit KPR. Dimana tercatatkan sebesar 6,5% sampai dengan 40% secara Month to Month (MtM) di bulan Maret lalu," ucapnya dalam acara Webinar Akurat.co bertemakan 'Relaksasi DP 0% Sebagai Senjata Utama Peningkatan Kredit', di Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Berdasarkan data tersebut, Yanti menilai kebijakan relaksasi rasio loan to value/financing to value (LTV/ FTV) untuk kredit pembiayaan properti maksimal 100%, efektif dalam memulihkan industri properti dan turunannya. "Ini jadi sinyal positif untuk perbankan disalurkan kreditnya, di mana permintaan properti diperkirakan meningkat," tuturnya.

baca juga:

Kendati demikian, Yanti menilai kebijakan relaksasi untuk sektor properti ini tidak serta merta cukup untuk membantu pemulihan ekonomi nasional. Dan tak semua bank bisa memberikan pelonggaran LTV hingga 100%. Sebab bank sentral hanya mengizinkan bank yang memenuhi kriteria kesehatan rasio kredit bermasalah (NPL/NPF) tertentu. 

Ekonom Senior Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, menilai kebijakan untuk mendorong kredit perbankan yang diluncurkan oleh pemerintah dan otoritas keuangan, termasuk relaksasi rasio LTV/ FTV untuk kredit pembiayaan properti 100%, belum akan berdampak optimal ke perekonomian karena pandemi Covid-19 masih ada.

Menurut Piter, kebijakan DP 0% tidak bisa dilihat secara parsial. Melainkan satu paket dengan berbagai kebijakan lain dari pemerintah dan otoritas keuangan agar bisa berdampak pada pertumbuhan kredit bank, dan perekonomian secara umum. 

"Karena kebijakan-kebijakan ini harus dilihat dari bagian dari kebijakan pemerintah dan otoritas dalam meningkatkan ketahanan ekonomi kita dalam menghadapi pandemi. Saya mengusulkan kebijakan (DP 0 persen) ini jangan dilakukan dalam jangka pendek, tapi lebih panjang agar bisa memanfaatkan momentum ketika pandemi berakhir nanti," ungkap Piter.

Di lain pihak, meski mengaku optimistis program relaksasi uang muka atau down payment 0% produk properti yang diterbitkan BI akan disambut baik oleh masyarakat dan meningkatkan kredit, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, pun masih akan selektif dan bertahap untuk menerapkan kebijakan tersebut.

"Kita lihat dulu untuk developer, kita lihat dulu di mana, konsumennya, bagaimana ketentuan inden, bisa cair 90% dan lain-lain. Dari sisi pengembang properti, tidak semua jenis properti cocok dengan DP 0%. Sebab, hanya beberapa jenis properti saat ini lebih prospektif ketimbang lainnya. Kami lihat lagi. Kita lebih cenderung untuk rumah tapak dulu. kita lihat perkembangan aturan ini," ucap Mortgage Head Bank BTN Hanafi dalam kesempatan yang sama.

BTN sendiri menargetkan KPR subsidi tumbuh hingga 7 sampai 9%. Kemudian untuk non subsidi, pertumbuhan kredit ditargetkan sebesar 4-5%. Adapun target penyaluran kredit subdisi sebesar 130 ribu unit, dan non sebesar 24 ribu unit. "Target ini inline dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 4,5% hingga 3,5%," tambahnya. []

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu