Ekonomi

Mengenal Reksa Dana Syariah: Sejarah, Keuntungan, Risiko

Mengenal Reksa Dana Syariah: Sejarah, Keuntungan, Risiko
Ilustrasi investasi (freepik/rawpixel.com)

AKURAT.CO Reksa dana syariah merupakan sebuah produk reksa dana yang cocok bagi pemeluk agama Islam yang ingin berinvestasi. Masyarakat Indonesia yang sebagian besarnya muslim kini tidak perlu khawatir apabila ingin berinvestasi dengan tetap berpedoman pada ajaran Islam.

Reksa dana syariah menurut Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nomor IX.A.13 diartikan sebagai reksa dana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya, yang pengelolaannya tidak bertolak belakang dengan aturan serta prinsip syariat di pasar modal.

Reksa dana syariah merupakan salah satu pilihan investasi bagi masyarakat pemodal, terutama pemodal kecil dan pemodal yang memiliki waktu terbatas serta tidak memiliki keahlian untuk memperkirakan risiko atas investasi mereka.

baca juga:

Sejarah reksa dana syariah

Dikutip dari laman resmi Otoritas Jasa Keuangan, pasar modal syariah di Indonesia diawali dengan diterbitkannya reksa dana syariah oleh PT. Danareksa Investment Management pada tanggal 3 Juli 1997. Kemudian, PT. Danareksa Investment Management bersama dengan Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta) bekerja sama meluncurkan Jakarta Islamic Index pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan membantu investor yang ingin menginvestasikan dananya sesuai dengan prinsip syariah. Hadirnya indeks tersebut merupakan upaya untuk memfasilitasi para pemodal dengan saham-saham yang dapat dijadikan sarana berinvestasi sesuai dengan prinsip syariat Islam. 

Kemudian, tanggal 18 April 2001, pertama kalinya Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa yang berhubungan langsung dengan pasar modal yang tertuang dalam Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Setelah itu, instrumen investasi syariah di pasar modal terus berkembang dan bertambah dengan hadirnya obligasi syariah PT. Indosat Tbk di awal Bulan September 2002. Instrumen ini merupakan obligasi syariah pertama dengan menggunakan akad mudarabah. Menurut UU No. 21/2008 tentang perbankan syariah, akad mudarabah adalah suatu bentuk kerja sama antara pihak pertama (malik, shahibul mal, atau nasabah) sebagai pemilik dana dan pihak kedua (mudharib, ‘amil, atau bank syariah) yang bertindak sebagai pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai perjanjian yang telah disepakati yang tertuang dalam akad.

Fakta reksa dana syariah

Mengutip laman resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat beberapa fakta mengenai reksa dana syariah, antara lain:

  1. Produk reksa dana syariah diawasi dan dijamin prinsip keyariahannya oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).
  2. Reksa dana syariah diurus oleh unit khusus.
  3. Reksa dana syariah dijalankan oleh manajer investasi syariah.
  4. Reksa dana syariah memiliki berbagai macam opsi alternatif produk.
  5. Reksa dana syariah berasaskan efek syariah luar negeri pertama di Indonesia.
  6. Reksa dana syariah merupakan produk reksa dana dengan rata-rata pertumbuhan market cap tertinggi.
  7. Lokapasar (marketplace) reksa dana syariah tersedia secara luring (offline) maupun daring (online).
Keuntungan reksa dana syariah

Sebagai produk investasi, reksa dana syariah menawarkan beberapa kelebihan yang menguntungkan, yakni:

  1. Investor akan mendapatkan keuntungan dengan pengelolaan yang dilakukan oleh ahli di bidangnya.
  2. Investor mendapatkan informasi secara transparan.
  3. Nilai investasi berpotensi mengalami pertumbuhan.
  4. Produk reksa dana diawasi dan dijamin oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).
  5. Investor memiliki banyak keanekaragaman investasi.
Risiko reksa dana syariah

Sebagaimana wadah investasi lainnya, reksa dana syariah memiliki beberapa peluang risiko di samping berbagai peluang manfaat yang dimilikinya. Peluang risiko tersebut antara lain:

  1. Risiko berkurangnya nilai unit penyertaan yang dipengaruhi oleh turunnya harga dari efek seperti saham, sukuk, dan surat berharga syariah lainnya, yang termasuk dalam portfolio reksa dana tersebut. Risiko ini berkaitan dengan tingkat profesionalitas manajer investasi reksadana untuk mengelola dananya.
  2. Risiko likuiditas yang berkaitan dengan kesulitan yang dihadapi oleh manajer investasi apabila mayoritas pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas sebagian besar unit penyertaan yang dipegangnya kepada manajer investasi dengan berbarengan. Hal ini menyebabkan manajemen perusahaan mengalami kesulitan dalam menyediakan dana tunai. Umumnya, risiko ini hanya terjadi pada perusahaan reksa dana bersifat terbuka atau open-end funds. Risiko likuiditas biasa dikenal sebagai redemption effect.
  3. Risiko wanprestasi, yang merupakan risiko paling buruk, yang pada umumnya kekayaan reksa dana diasuransikan kepada perusahaan asuransi. Risiko ini disebabkan karena perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksa dana tersebut tidak segera mengganti kerugian atau membayar di bawah dari nilai pertanggungan saat terjadi suatu masalah yang tidak diharapkan. Selain itu, wanprestasi juga dapat diakibatkan oleh pihak-pihak yang terlibat dengan reksa dana seperti pialang, agen pembayaran, bank kustodian, atau terjadinya bencana alam, sehingga menyebabkan turunnya nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana.
  4. Risiko politik dan ekonomi yang diakibatkan adanya perubahan kebijakan ekonomi dan politik yang dapat memengaruhi kinerja bursa dan perusahaan sekaligus, yang berimbas pada efek dalam portofolio yang dimiliki suatu reksa dana.
Ketentuan berinvestasi reksa dana syariah

Reksa dana syariah merupakan wadah investasi yang menarik. Bagi calon investor yang berminat untuk berinvestasi di reksa dana, terdapat beberapa ketentuan yang wajib diketahui sebelum membeli reksa dana, yaitu:

  1. Reksa dana dapat dibeli secara langsung melalui perusahaan manajer investasi yang menerbitkan dan mengelola reksa dana atau dapat dilakukan melalui bank yang merupakan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).
  2. Terdapat beberapa syarat awal yang harus dilengkapi oleh calon investor seperti wajib mempunyai kartu identitas yang masih berlaku seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Dokumen tersebut merupakan syarat untuk pembukaan rekening sebelum membeli reksa dana.
  3. Investor wajib melaksanakan proses yang disebut dengan KYC (Know Your Customer) dan investor diharuskan untuk melakukan pertemuan dengan pihak manajer investasi atau APERD sedikitnya 1 kali.

Itulah sederet informasi penting terkait reksa dana syariah yang perlu diketahui sebelum memulai investasi. Selamat mencoba berinvestasi reksa dana syariah, ya![]