Lifestyle

Rekomendasi Tempat Wisata Di Sekitar Alun-alun Kota Tegal

Rekomendasi Tempat Wisata Di Sekitar Alun-alun Kota Tegal
Potret Alun-alun Kota Tegal di malam hari (Instagram/ 740aerialvideography)

AKURAT.CO, Alun-alun sering dijadikan ruang rekrasi keluarga, yang dibangun bisa menggunakan rumput sintetis atau taman bunga. Seperti diketahui, fasilitas umum seperti alun-alun dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa terkecuali. Salah satunya Alun-alun Tegal.

Terletak di pusat kota tepatnya di Jalan Pancasila, Mangkukusuman, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Alun-alun ini dikelilingi bangunan penting bahkan bersejarah di Tegal, diantaranya Gedung Balai Kota, Masjid Agung, Menara Air, Taman Pancasila, Gedung SCS, dan Stasiun Kereta Api.

Berikut tempat-tempat wisata sejarah yang bisa kamu kunjungi, saat kamu datangi di sekitar Alun-alun Kota Tegal.

baca juga:

Masjid Agung Kota Tegal

Kalau kamu ingat kapan terjadinya perang antara Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belkamu yang terkenal dengan sebutan Perang Jawa maka Kamu tentu akan mudah untuk mengingat sejarah dibangunnya Masjid Agung Kota Tegal, Jawa Tengah.

Sebab, antara tahun 1825-1830, saat pecahnya Perang Jawa itulah Masjid Agung Tegal ini mulai dibangun oleh K.H. Abdul Aziz.

Dikarenakan dibangun pada saat terjadinya perang, maka keberadaan masjid ini seakan menjadi saksi bisu perlawanan yang dilakukan Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya yang setia dalam membela kebenaran.

Masjid Agung Kota Tegal ini sejak berdirinya hingga sekarang telah mengalami beberapa kali renovasi. Tercatat pada tahun 1927, ruang paseban masjid direnovasi karena sudah tidak representatif lagi. Sebagai gantinya, dibangunlah KUA (Kantor Urusan Agama), tempat untuk melangsungkan pernikahan bagi umat Islam Tegal.

Kemudian pada tahun 1953-1954, Masjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun kota Tegal ini pun direnovasi kembali. Bahkan, renovasi dan perombakan kala itu dilakukan secara besar-besaran. Serambi depan masjid diperluas ke arah depan sehingga menyatu dengan KUA.

Untuk memenuhi kebutuhan jamaah akan air wudhu maka pada tahun 1970 tempat wudhu sebelah kanan masjid diperbaiki. Kemudian, agar bangunan masjid kelihatan modem maka pada tahun 1985 bagian atap masjid dirombak dan diganti dengan atap tumpang, seperti yang tampak sekarang ini.

Meski atapnya telah dirombak, bila masjid ini kita lihat dari arah belakang maka gaya arsitektur yang modem tersebut tidak akan terlihat karena hingga sekarang bagian belakang masjid ini belum pernah direnovasi masih tampak kekunoannya.

Kebetulan, letak Masjid Agung ini memang tidak jauh dari pendopo Walikota Tegal, tepatnya kurang lebih 150 meter ke arah barat laut dari pendopo tersebut. Panggilan azannya dikumkamungkan melalui pengeras suara yang diletakkan di puncak menara masjid.

Gedung SCS

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kota Tegal menjadi daerah yang cukup strategis yang ada di pesisir utara Jawa sekitar abad ke-18 hingga ke-20 M.

Kondisi ini juga didukung dengan adanya jalur kereta api yang melewati wilayah Tegal dengan menghubungkan kota-kota di sepanjang pesisir utara Jawa. Hal tersebut nampaknya dapat dibuktikan dengan adanya keberadaan bekas kantor perusahaan kereta api swasta Semarang-Cheribon Stoomtram Matschappij (SCS) anakan perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yaitu Gedung Birao.

Kantor perusahaan ini dulunya dimanfaatkan sebagai tempat administratif terkait perusahaan kereta api, mengingat sedang dibangun jaluan kereta api Cirebon-Semarang.

Gedung Birao dirancang pertama kali pada 1911 oleh arsitek terkemuka dalam perkembangan arsitektur Belkamu, Henri Maclaine Pont, arsitek keturunan Belkamu-Bugis yang lahir di Jakarta.

Bangunan ini sangat kental dengan gaya arsitektur belanda. Meski demikian, Maclaine Pont mahir dalam menggunakan sumber daya alam setempat dan memperkerjakan buruh lokal dengan harapan sebagai latihan dalam menambah keterampilan mereka.

Pembangunan Gedung Birao ini turut memperhatikan kondisi lingkungan setempat, sama halnya Lawang Sewu dibuat. Bangunan dirancang sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan iklim, sinar matahari, dan gaya hidup masyarakat lokal pada masa itu.

Tidak seperti orang Eropa yang lebih memilih menggunakan bahan impor, Maclaine Pont menggunakan bahan-bahan lokal misalnya kayu jati, batu bata, dan pasir lokal.

Gedung Birao ini menjadi saksi bisu sejarah dari masa Hindia Belanda hingga masa kini masih berdiri kokoh.

Pada masa setelah Proklamasi, 10 September 1945, bangunan ini digunakan sebagai tempat dikibarkannya bendera Merah Putih, bukti pergerakan warga lokal tegal memerangi penjajah yang melarang pengibaran bendera pada waktu itu.

Beberapa puluh tahun berlalu, Gedung Birao disewakan kepada Yayasan Pancasakti Tegal dan digunakan sebagai kampus dua Universitas Pancasakti Tegal. Setelah masa sewanya habis, Gedung Birao dibiarkan begitu saja, hingga akhirnya kini didaftarkan menjadi cagar budaya.

Menara Air

Kota Tegal tak bisa dilepaskan dari sejarah dan peninggalan-peninggalan zaman kolonial. Terdapat begitu banyak bangunan dan peninggalan Belkamu yang hingga kini masih berdiri kokoh di Kota Tegal, salah satunya bangunan menara air PDAM atau Waterleideng Tegal.

Bangunan ini berdiri sejak tahun 1931. Berdiri tegak menjulang ke langit, bangunan ini menyerupai menara Pisa dan tepat di atas pintu menara ini tertulis Anno 1931.

Bangunan ini menjadi bukti infrastruktur Kota Tegal yang dikenal sebagai gementee Tegal dalam menyediakan suplai air bersih bagi masyarakat Kota Tegal saat itu.

Dibangun oleh Tower Waterleideng beedrif of Province Midden Java, sebagai implementasi pelaksanaan politik etis dirancang tahun 1917.

Struktur menara ini mempunyai keunikan dan memiliki ketinggian 30 meter, luas bangunan 95 meter, dan luas tanah mencapai 4.058 meter. Sementara itu, panjang bangunan berdiameter 11 meter dan lebar bangunan berdiameter 11 meter.

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 sampai dengan 1945 bangunan ini berfungsi sebagai menara air bersih tetap dengan nama Suwindo yang artinya pipa air.

Setelah kemerdekaan, bangunan ini menjadi bagian dari perusahaan Saluran Air Minum (SAM) hingga tahun 1975 berganti menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Taman Pancasila
View this post on Instagram

A post shared by WISATA TEGAL (@wisata_tegal)

Jika berkunjung ke Alun-alun Kota Tegal, jangan lupa berkunjung ke Taman Pancasila.

Dulunya, taman ini bernama Taman Poci. Penamaan Taman Poci karena terdapat sebuah patung poci yang cukup besar di tengah-tengah kolamnya.

Saat masa jabatan Walikota Kota Tegal yakni Dedy Yon Supriyono, Taman Poci ditata ulang dan berubah nama menjadi Taman Pancasila.

Jalan Pancasila yang awalnya sempit menjadi lebih lebar dan terasa luas dari 2 arah timur ke barat.

Tempat wisata di Tegal ini mulai dibuka sejak 28 Oktober 2021, dan dibuka secara simbolis oleh Walikota Tegal yakni Dedy Yon Supriyono.

Objek wisata ini buka setiap hari, selama 24 jam. Taman ini berlokasi di Jl. Pancasila, Panggung, Kec. Tegal Timur, Kota Tegal.

Akan lebih ramai pada hari bebas kendaraan atau Car Free Day yang biasanya diadakan mulai dari pukul 05.30 - 08.00 di alun-alun Kota Tegal.

Selama Car Free Day, Alun-alun Kota Tegal akan dipenuhi dengan masyarakat yang ingin berolahraga ataupun sekadar berjalan kaki dan bersantai bersama dengan keluarga.

Anak-anak, remaja, hingga orang tua akan memadati daerah sekitar Alun-alun Kota Tegal tersebut hingga ke daerah sekitarnya termasuk hingga kawasan Taman Pancasila.

Tiket masuk untuk ke taman ini gratis karena merupakan taman kota yang dibuka untuk masyarakat umum.

Meski tak berbayar, namun pengunjung tetap harus memperhatikan tata tertib yang telah ditentukan untuk menjaga taman agar tetap nyaman dan dapat dinikmati semua orang.

Pengunjung dapat menemukan banyak fotografer berbayar yang siap mengambil foto di beberapa spot foto sekitar taman.

Biasanya harga yang ditawarkan cukup murah yakni sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu.

Berbagai jajanan dan wisata permainan anak-anak dapat ditemukan juga disini, harganya beragam mulai dari Rp5 ribu hingga Rp35 ribu.

Pengunjung pun dapat berwisata di sekitaran taman dengan menggunakan skuter dan sepeda listrik sewaan atau dengan berjalan kaki. Biaya untuk sewa skuter dan sepeda Rp20 ribu per 20 menit.[]