News

Ratusan Warga Tepi Barat Berdemo Tuntut Presiden Otoritas Palestina Mundur, Ini Sebabnya

Mahmoud Abbas membatalkan Pemilu pertama dalam 15 tahun pada bulan April ketika Partai Fatah-nya yang terpecah tampak akan kalah.


Ratusan Warga Tepi Barat Berdemo Tuntut Presiden Otoritas Palestina Mundur, Ini Sebabnya
Demonstran terdengar meneriakkan 'Rakyat ingin rezim lengser' dan 'Pergilah Abbas'. (Foto: AFP) ()

AKURAT.CO, Ratusan warga Palestina berunjuk rasa di Kota Ramallah, Tepi Barat, untuk menentang Presiden Mahmoud Abbas. Gerakan protes ini dipicu oleh kematian seorang kritikus vokal dalam tahanan pasukan keamanan.

Dilansir dari Al Jazeera, Otoritas Palestina (PA) didirikan sebagai bagian dari proses perdamaian pada 1990an dan mengatur bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki Israel. Namun, pemerintahan ini tumbuh semakin mendominasi dan tidak populer. Abbas pun membatalkan Pemilu pertama dalam 15 tahun pada bulan April ketika Partai Fatah-nya yang terpecah tampak akan kalah.

Selama eskalasi kekerasan pada bulan Mei antara Hamas, kelompok Palestina yang memerintah Jalur Gaza, dengan Israel, Abbas kebanyakan menyingkir dari banyaknya dukungan untuk Hamas.

Demonstrasi pada Sabtu (3/7) awalnya diikuti ratusan orang yang berkumpul di Alun-alun Al-Manara, pusat Ramallah. Ibu dari Nizar Banat, aktivis yang kematiannya bulan lalu memicu protes, dan anggota keluarga lainnya disambut dengan tepuk tangan dan menyampaikan pidato singkat. Demonstran kemudian mengelilingi pusat kota dan massa bertambah sampai ribuan orang. Mereka terdengar meneriakkan 'Rakyat ingin rezim lengser' dan 'Pergilah Abbas', yel-yel yang digunakan selama protes Musim Semi Arab yang melanda Timur Tengah pada 2011.

Polisi biasanya berjaga pada unjuk rasa di Tepi Barat. Namun, tak ada satu pun pasukan yang terlihat selama demonstrasi pada Sabtu (3/7).

"Kami mendengar bahwa ada polisi antihuru-hara di jalanan sekitar alun-alun dan jalanan menuju kediaman presiden. Jika demonstran mencoba menuju ke kediaman presiden, mereka mungkin akan dihadang dengan paksa," lapor jurnalis Al Jazeera Nida Ibrahim dari Ramallah.

Baca Juga: Jarang Tersorot, 6 Fakta Menarik Mahmoud Abbas Presiden Palestina

Sementara itu, Partai Fatah yang dipimpin Abbas dan mendominasi PA mengadakan rapat umum di Kota Hebron. Para pendukungnya mengibarkan bendera kuning simbol partai tersebut. TV pemerintah juga meliputnya dan mengabaikan demonstrasi di Ramallah.

Berbeda dari protes pada Sabtu (3/7) yang berlangsung damai, demonstrasi yang digelar pekan lalu diwarnai dengan tindakan keras dari aparat. Pasukan keamanan Palestina dan kelompok pria berpakaian preman membubarkan aksi protes tersebut dengan memukuli demonstran dengan tongkat serta menyerang mereka dengan gas air mata dan granat kejut.

Kejadian ini sontak menuai keprihatinan dari Amerika Serikat (AS) dan kepala HAM PBB. Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet pun menyerukan PA untuk memastikan kebebasan berpendapat, berekspresi, dan aksi damai.[]