News

Ratusan Jasad Ditemukan Tergeletak di Rumah dan Jalanan, Presiden Ekuador Bangun Penampungan Korban COVID-19


Ratusan Jasad Ditemukan Tergeletak di Rumah dan Jalanan, Presiden Ekuador Bangun Penampungan Korban COVID-19
Petugas dengan pakaian pelindung mereka tampak membawa peti mati yang dibungkus plastik di pemakaman di Guayaquil pada Rabu (1/4) lalu (AFP)

AKURAT.CO, Pada Kamis (2/4) kemarin, pemerintah Ekuador resmi mengumumkan bahwa pihaknya tengah membangun sebuah kamp khusus untuk menampung para korban COVID-19. Pembangunan kamp khusus tersebut pun rencananya akan didirikan di kota besar yang menjadi episentrum COVID-19, Guayaquil.

Dalam liputannya, Reuters pada Jumat (3/4) melaporkan bagaimana inisiatif pendirian kamp muncul setelah Guayaquil ditampar habis-habisan oleh COVID-19. Pasalnya, tidak hanya dikonfirmasi telah menelan lebih dari 80 korban, pemerintah Guayaquil sampai menyebutkan bagaimana wabah telah membuat banyak orang tewas di dalam rumah mereka sendiri.

Tidak tanggung-tanggung, jumlah mayat yang berhasil ditemukan oleh pihak berwenang dilaporkan mencapai angka hinga 150 jiwa. Bahkan ratusan mayat warga Guayaquil ini dikatakan telah tergeletak dan ditinggalkan begitu saja selama berhari-hari lamanya.

"Kami sedang membangun kamp khusus untuk yang para korban (COVID-19)," Presiden Ekuador, Lenin Moreno seraya menambahkan bagaimana pemerintah telah bersiap-siap dengan prediksi bahwa jumlah total kematian Guayaquil dan daerah sekitar Provinsi Guayas bisa mencapai antara 2.500 hingga 3.500 jiwa.

Sementara itu, dalam laporannya, AFP pada Jumat (4/3) menuliskan bagaimana 150 jasad warga berhasil dikumpulkan oleh pasukan gabungan tentara dan kepolisian dalam waktu tiga hari. Namun, menurut AFP, ratusan mayat ini dilaporkan tidak hanya ditemukan di dalam rumah mereka, tetapi juga di jalan-jalan di kota pelabuhan Guayaquil.

Sebelum dikumpulkan, sejumlah warga bahkan sempat mempublikasikan berbagai video di media sosial yang mempertunjukkan bagaimana mayat-mayat ditinggalkan di jalan-jalan di kota Guayaquil.

Beberapa warganet juga terlihat meninggalkan pesan putus asa dan memohon agar pihak berwenang segera mengambil mayat orang yang telah meninggal di rumah mereka.

Menanggapi aduan dari masyarakat, pemerintah pun sempat meminta maaf dan menjelaskan bahwa pekerja tidak bisa membawa mayat-mayat tersebut karena adanya aturan jam malam.

"Kami mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada mereka yang harus menunggu orang yang mereka cintai dibawa pergi selama berhari-hari," ucap juru bicara pemerintahan Ekuador, Jorge Wated pada Rabu (1/4) malam waktu setempat.

Meski begitu, pemerintah Ekuador diketahui belum memberikan keterangan pasti apakah ratusan mayat ditemukan tersebut adalah korban COVID-19. Pun, dengan tambahan warga yang meninggal ini, pemerintah belum mengonfirmasi lagi berapa jumlah korban tewas akibat COVID-19.

Sementara itu, dari pantauan terkini, Worldometer melaporkan bahwa kasus infeksi di Ekuador setidaknya sudah mencapai 3.163 pasien. Sedangkan dari ribuan penderita tersebut, 120 orang di antaranya telah dilaporkan tewas.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu