News

Ratu Elizabeth dalam Kenangan: Simbol Stabilitas Inggris sejak Bertakhta di Usia 25 Tahun

Ratu Elizabeth dalam Kenangan: Simbol Stabilitas Inggris sejak Bertakhta di Usia 25 Tahun
Bertakhta sejak usia 25 tahun, Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris wafat pada Kamis (8/9). (REUTERS dan Press Association via BBC)

AKURAT.CO Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 96 tahun pada Kamis (8/9) di Kastil Balmoral, Skotlandia. Dengan demikian, selesai sudah tugasnya sebagai raja yang paling lama bertakhta di Kerajaan Inggris.

Dilansir dari Reuters, naik takhta ketika baru berusia 25 tahun setelah ayahnya, Raja George VI, wafat pada 6 Februari 1952. Ia dimahkotai pada Juni tahun berikutnya. Penobatannya pun menjadi yang pertama disiarkan televisi dan permulaan di mana kehidupan para bangsawan semakin disorot oleh media.

"Saya dengan tulus bersumpah untuk melayani Anda sekalian, sebagaimana begitu banyak dari Anda bersumpah untuk melayani saya. Sepanjang hidup saya dan dengan sepenuh hati, saya akan berusaha memantaskan diri untuk kepercayaan Anda sekalian," tuturnya saat berpidato di hadapan rakyatnya pada hari penobatannya.

baca juga:

Ratu Elizabeth dalam Kenangan: Simbol Stabilitas Inggris sejak Bertakhta di Usia 25 Tahun - Foto 1
PA via BBC

Meski konon tingginya hanya sekitar 160 cm, ia lincah memerintah setiap penjuru yang dimasukinya. Terkenal dengan pakaiannya yang cerah, ia dikatakan menyindir, "Saya harus terlihat bisa dipercaya."

Elizabeth menjadi raja pada saat Inggris masih mempertahankan sebagian besar kerajaan lamanya. Saat itu, dunia karut-marut akibat Perang Dunia II. Penjatahan makanan masih berlaku, sedangkan kelas dan hak istimewa masih dominan di masyarakat.

Perdana menteri Inggris saat itu dijabat oleh Winston Churchill, sementara Josef Stalin memimpin Uni Soviet. Perang Korea juga berkecamuk.

Dalam dekade berikutnya, Elizabeth menyaksikan perubahan politik besar-besaran dan pergolakan sosial di dalam dan luar negeri. Sementara itu, kesengsaraan keluarganya sendiri dipertontonkan di depan umum, terutama perceraian Charles dan mendiang istri pertamanya, Diana.

Di tengah kesemrawutan itu, Elizabeth tetapi menjadi simbol stabilitas dan kesinambungan yang bertahan lama bagi warga Inggris, begitu juga pada saat ekonomi nasional relatif menurun. Ia juga mencoba menyesuaikan monarki kuno dengan tuntutan era modern.

"Ia telah berhasil memodernisasi dan mengembangkan monarki tak seperti yang lain," puji cucunya, Pangeran William, yang kini menjadi putra mahkota, dalam sebuah film dokumenter 2012.