Olahraga

Rasisme di Spanyol Lebih Parah Ketimbang di Inggris dan Prancis

Rasisme di Spanyol Lebih Parah Ketimbang di Inggris dan Prancis
Pemain Valencia, Mouktar Diakhaby, bersama rekan setimnya meninggalkan pertandingan ketika melawan Cadiz karena mengaku mendapatkan hinaan rasial di Cadiz, Spanyol, Minggu (4/4). (EL MUNDO DEPORTIVO/Roman Rios)

AKURAT.CO, Pembicaraan tentang rasisme di sepakbola Spanyol terus bergulir. Terutama setelah pemain Cadiz, Juan Cala, dituduh melontarkan ejekan bernada rasial kepada pemain Valencia, Mouktar Diakhaby.

Dalam keterangannya pada awal pekan ini, Cala menegaskan bahwa tidak ada rasisme dalam sepakbola Spanyol. Sementara itu, dugaan yang menyebutkan Cala melontarkan ucapan “negro sialan” terhadap Diakhaby di pertandingan La Liga Spanyol akhir pekan lalu telah membuat pemain Valencia meninggalkan pertandingan.

Media olahraga terkemuka Spanyol seperti Marca melakukan pembahasan ini dengan mengingat kembali tindakan rasisme yang terjadi di pertandingan sepakbola mereka. Salah satunya adalah insiden bek Barcelona, Dani Alves, yang mendapat lemparan pisang ketika hendak mengambil sepak pojok di kandang Villareal pada 2014.

baca juga:

Beberapa pekan setelah itu, pemain asal Senegal yang pada masa tersebut bermain untuk Levante, Pape Diop, bahkan dipanggil “monyet” dan diminta menari seperti monyet justru ketika bermain di kandang timnya sendiri.

Diop mengatakan bahwa selazim-lazimnya rasisme di Eropa seperti di Inggris dan Prancis, Spanyol adalah tempat yang terberat dihadapinya. Pasalnya, kata Diop, Spanyol tidak terlalu menganggap aksi rasisme sebagai hal serius tanpa tindakan yang keras.  

“Tidak seperti negara lain seperti Inggris, yang juga ada rasisme, apa yang terjadi di sini (Spanyol) adalah tidak ada sanksi atau mereka hanya dianggap bergurau. Sanksi untuk (kasus) Alves sangat konyol dan dalam kasus saya tidak ada (tindakan) yang diambil,” ucap Diop.

Diop mengatakan bahwa Spanyol harus mengambil tindakan keras terhadap para pelaku tindakan rasial. Bagaimanapun, katanya, atmosfer di stadion mencerminkan masyarakat di negara setempat.

“Stadion adalah refleksi masyarakat dan saya tidak hanya bicara soal rasisme, di sini ada homofobia dan banyak hal-hal buruk. Tugas kita adalah memperkeras sanksi,” ucap Diop.

“Jika seorang pemain diketahui memanggil rekan setimnya ‘bajingan China atau hitam” dan mereka menghukumnya (sanksi) larangan bermain sepuluh laga plus sanksi finansial, mereka akan berpikir sebelum melakukan itu.”

Pembicaraan di media memaksa otoritas sepakbola Spanyol melakukan penyelidikan terhadap tindakan Cala terhadap Diakhaby. Rekaman video pertandingan akan menjadi bukti pokok dalam kasus ini.[]

Hervin Saputra

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu