Rahmah

Ramai Taliban Kudeta Afghanistan, Begini Hukum Kudeta dalam Islam

Sebetulnya, apakah Islam membolehkan Taliban kudeta Afghanistan?


Ramai Taliban Kudeta Afghanistan, Begini Hukum Kudeta dalam Islam
Para anggota pemimpin Taliban (Reuters via VOA)

AKURAT.CO Allah SWT melalui ayat Al-Qur'an memberi peringatan agar manusia selalu taat kepada-Nya, Rasul-Nya, dan kepada para pemimpin (Ulil Amri). Sebaliknya, melarang mereka membangkang kepada perintah ketiganya.

Disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 59, Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An-Nisa Ayat 59).

Rasulullah mengajarkan kita untuk tetap sopan santun saat mengkritik pemimpin yang kita anggap memiliki kekurangan. Ada adab dan cara yang baik yang diajarkan Islam saat memperingati pemerintah, Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِه شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيْتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Artinya: “Siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang ia benci maka hendaklah ia bersabar karena siapa yang satu jengkal saja meninggalkan jamaah (kaum muslimin di bawah kepimpinanan pemimpin tersebut) lalu ia meninggal, maka matinya itu mati jahiliah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ramai isu kereta Taliban atas Afghanistan, bagaimana Islam memandang ini? Apakah boleh mengkudeta kepemimpinan yang masih dianggap sah dalam sebuah konstitusi?

Dijawab di dalam kitab Minhaj As-Sunah, sebagai berikut;

لا يكاد يعرف طائفة خرجت على ذي سلطان إلا وكان في خروجها من الفساد ما هو أعظم من الفساد الذي أزالته

Artinya: “Tidaklah diketahui sekolompok orang yang memberontak/kudeta kepada penguasa yang sah, kecuali pemberontakan itu sendiri kerusakannya lebih besar dari kerusakan yang ingin mereka hilangkan.” (Mihajus Sunnah 3/391, Muassasah Quthubah, syamilah)

Keterangan di atas jelas melarang umat Islam untuk melakukan kudeta kepada pemimpin. Kudeta akan mendatangkan kerusakan yang lebih besar dibanding dengan kudeta itu sendiri.

Hal ini kemudian juga dikuatkan oleh pandangan Imam Syafi'i,

وأجمع أهل السنة أنه لا ينعزل السلطان بالفسق وأما الوجه المذكور في كتب الفقه لبعض أصحابنا أنه ينعزل وحكى عن المعتزلة أيضا فغلط من قائله مخالف للإجماع

Artinya: “Ahlus sunnah sepakat (ijma’) bahwa penguasa tidak boleh dilengserkan (kudeta) karena kefasikannya, adapun yang disebutkan dalam beberapa kitab fikh oleh sebagaian Syafi’iyyah mengenai bolehnya mengkudeta/melengserkan maka ini salah besar dan menyelisihi ijma’.” (Syarh Muslim 12/229, Dar Ihya’ At-Turats, syamilah).

Hukum mengkudeta pemimpin dalam Islam adalah haram. Kita dituntut untuk taat kepada pemimpin, sebab mereka adalah tangan kanan Tuhan. Bila mereka memiliki kekurangan, Islam mengajarkan cara-cara mengkritik pemerintah yang baik. Bukan dengan melakukan kudeta yang akan berdampak pada kerusakan yang besar. Wallahu A'lam.[]