Rahmah

Ramai Tagar Bubarkan MUI, UAH: Tidak Masuk Akal

Menurut UAH, ketika seseorang masuk ke dalam sebuah lembaga dan melakukan kesalahan, maka jangan lantas lembaga tersebut yang dihukumi bersalah.


Ramai Tagar Bubarkan MUI, UAH: Tidak Masuk Akal
Ustaz Adi Hidayat (Netralnews)

AKURAT.CO Tagar bubarkan MUI menjadi trending topik di Twitter. Hal tersebut menyusul dengan adanya penanggkapan pengurus MUI yang diduga terlibat dalam jaringan terorisme. 

Ustaz Adi Hidayat atau biasa disebut UAH merespon viralnya tagar tersebut.  Menurut UAH, ketika seseorang masuk ke dalam sebuah lembaga dan melakukan kesalahan, maka jangan lantas lembaga tersebut yang dihukumi bersalah

UAH megatakan, saat ini definisi terorisme belum sempurn mutlak dan dapat dipahami sebagai kegiatan teror. Karena terorisme yang sering muncul adalah sebuah paham yang menghadirkan teror atau sesuatu yang mengguncang kepada jiwa yang memberikan efek rasa takut yang mendalam.

"Lantas dari definisi ini sudah ada definisi baku belum dalam tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar UAH dalam tayangan Klik Adi yang diunggah melalui channel YouTube Adi Hidayat Official, Jumat (19/11/2021).

UAH menambahkan, selama ini definisi terorisme selalu dibangun adalah citra perbuatan seseorang yang dikaitkan dengan agama Islam. Karena secara pribadi, UAH menyebut segala bentuk tindakan terorisme dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, selalu dibatasi pada segala hal yang terkait dengan agama Islam.

UAH menyebut, misalnya di Papua ada gerakan KKB yang juga menghasilkan teror, apakah termasuk dalam kelompok terorisme atau tidak. Dengan begitu, semuanya harus mengetahui apa motif yang mendasar aksi tersebut. Sehingga ada klasifikasi, apakah mengambil motif keyakinan atau agama sebagai dasar karena salah pemahaman yang dapat diluruskan.

"Jadi akan nampak sebuah citra yang bisa diisi dengan nilai-nilai pengetahuan yang terukur serta tindakan-tindakan preventif yang benar berdasarkan definisi yang kita sepakati terlebih dahulu," tutur UAH 

Terkait kasus dugaan terorisme di MUI, UAH menyatakan untuk menghormati proses hukum yang dapat diuji di persidangan. Sehingga menghasilkan hasil yang memberikan citra kepada masyarakat untuk pembinaan.

UAH menilai, dalam skema berpikir yang kemudian dikaitkan dengan skema logika, maka akan hancur implementasinya. Sehingga semua komunitas atau lembaga yang jelek, lalu dibubarkan. 

"Misalnya pejabat di kampus A, kemudian korupsi dan dibubarkan kampusnya, ini tidak masuk akal, masuknya ke nafsu," jelas UAH.

Artinya perlu pembinaan dengan tuturan dan sikap kepada orang yang menggaungkan tagar tersebut, sehingga ada konsepsi berpikir yang benar.

UAH mengibaratkan, sesuatu yang masuk ke sebuah komunitas, jangan lantas dihukumi seluruh komunitas itu.

"Kalau peci anda tidak masuk ke kepala, jangan potong kepalanya, tetapi sesuaikan dengan ukuran pecinya," pungkas UAH.[]