Rahmah

Ramai Sumbangan 2 Triliun Disebut Hoaks, Begini Islam Menyikapinya

Akidi Tio yang akan menyumbang Rp2 triliun untuk penanganan pandemi covid-19 di Indonesia disebut Hoaks hingga Prank oleh warganet.


Ramai Sumbangan 2 Triliun Disebut Hoaks, Begini Islam Menyikapinya
Ilustrasi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Jagat dunia maya kembali diramaikan dengan dugaan hoaks keluarga Akidi Tio yang akan menyumbang Rp2 triliun untuk penanganan pandemi covid-19 di Indonesia. Penyerahan bantuan tersebut dilakukan secara simbolis oleh anak Akidi Tio, Heriyanti, kepada kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Eko Indra Heri, Senin (26/7/2021).

Hal tersebut membuat banyak warganet yang menobatkan Akidi Tio sebagai salah satu prank atau lelucon terbesar sepanjang sejarah bangsa ini. Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh rakyat Indonesia terkena prank Akidi Tio sumbang Rp 2 triliun tersebut.

Lantas bagaimana pandangan agama Islam terdapat perbuatan hoaks berupa prank ini?

Surat An-Nahl ayat 105, Allah mengaitkan pembuat atau penyebar berita bohong dan krisis keimanan terhadap ayat-ayat suci:

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِآياتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Artinya: “Orang yang mengada-adakan kebohongan itu hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka itulah pembohong,” (Surat An-Nahl ayat 105). 

Hubungan pembuat atau penyebar berita bohong dan krisis keimanan ini juga disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat hadits berikut ini:  

وروى صفوان بن سليم قال: قيل للنبي صلى الله عليه وسلم: أيكون المؤمن جبانا؟ قال: نعم. قيل: أفيكون بخيلا؟ قال: نعم. قيل: أفيكون كذابا؟ قال: لا.

Artinya: “Sofwan bin Salim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, ‘Bisakah seorang Mukmin adalah penakut?’ ‘Bisa jadi,’ jawab Nabi SAW. ‘Dapatkah orang beriman itu adalah orang yang kikir?’ ‘Boleh jadi,’ kata Nabi SAW. ‘Mungkinkah orang beriman itu adalah pendusta?’ ‘Tidak mungkin," jawab Rasulullah SAW.

Berita bohong atau hoaks tidak melulu memuat 100% kebohongan. Hoaks bisa jadi merupakan pelintiran berita benar atau jahitan antara berita benar. Hal ini pernah disampaikan oleh Sahabat Ibnu Abbas RA ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 42 sebagaimana dikutip dalam riwayat berikut ini:

وقال ابن عباس رضي الله عنهما في قوله تعالى: وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ أي لا تخلطوا الصدق بالكذب.

Artinya: “Ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 42, yaitu ‘Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan,’ Ibnu Abbas RA mengatakan, ‘Janganlah kalian mencampur kejujuran dengan kebohongan,". (Lihat Al-Imam Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Beirut: Darul Fikr, 1992 M/1412 H], halaman 191).

Uraian di atas memang tidak sepenuhnya benar, tetapi hampir semua keterangan ini kerap kita jumpai dalam pengalaman keseharian kita di era media sosial sekarang ini. Wallahu A'lam.

Sumber: Nu Online