Rahmah

Ramai Pendekatan Mubadalah dalam Islam, ini Penjelasan Buya Husein Muhammad

Mubadalah secara literal memiliki arti kesalingan. Akan tetapi bagaimana umat Muslim memahami kata ini?


Ramai Pendekatan Mubadalah dalam Islam, ini Penjelasan Buya Husein Muhammad
Buya Husein Muhammad (Ngopibareng)

AKURAT.CO  Mubadalah secara literal memiliki arti kesalingan. Cara pandang dalam memahami teks keagamaan Islam ini ramai diperbincangkan di kalangan Muslim. Akan tetapi bagaimana umat Muslim memahami kata ini?

Melalui Video IGTV yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya @husein553, Rabu (27/10/2021), Pengasuh Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, KH Husein Muhammad mengatakan bahwa pada suatu hari ada seorang ayah dan anak perempuannya sedang menaiki mobil. Ayah tersebut mengendarai mobilnya ke salah satu kota untuk sebuah keperluan. Ketika tiba di perempatan jalan, mobil itu berhenti.  

Kemudian sang anak perempuan itu bertanya lagi.

"Mengapa kita berhenti ayah?"

"Karena lampu merah sedang menyala wahai anakku," jawab sang ayah.

Sang anak perempuan itu bertanya kembali,

"Mengapa kalau lampu merah itu harus berhenti ayah?,"

"Karena kalau kita terus berjalan, kita akan ditangkap oleh polisi," kata sang ayah.

"Mengapa kalau terus berjalan, polisi akan menangkap kita ayah?" kata anak perempuan itu penasaran.

"Karena kita akan melanggar peraturan. Kalau perjalanan kita diteruskan akan bisa membahayakan orang-orang disekitar," jelas sang ayah.

"Mengapa?," kata anak itu lagi.

"Ya kalau diteruskan akan terjadi kecelakaan dan jalanan bisa semrawut dan macet," lanjut sang ayah itu.

Kemudian sang ayah menjelaskan dengan sabar kepada anaknya,".

"Kita tidak boleh menyakiti orang lain. Seperti halnya kita tidak ingin disakiti oleh orang lain," jelas sang ayah.

"Apakah kamu mau disakiti?" tanya sang ayah.

"Tentu tidak ayah. Aku tidak mau disakiti," tutur anak perempuan itu.

"Nah kalau begitu, orang lain juga tidak ingin disakiti," ucap sang ayah.

Buya Husein Muhammad lalu menuturkan sebuah Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.

احب لاناس ما تحب لنفسك

Ahibba linnaasi maa tuhibbu linafsika

"Cintailah untuk manusia apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri" (HR. Bukhori).

Akan tetapi anak perempuan itu masih belum puas. Ia sangat kritis dan bertanya lagi 

"Mengapa demikian? sang anak perempuan itu bertanya kembali.

"Ya karena manusia itu sama," tandas sang ayah.

Demikian menurut Buya Husein, gagasan dan ajaran untuk hidup dalam kesalingan ini, sejatinya telah menjadi esensi ajaran-ajaran agama dan etika kemanusiaan. Para penganut agama dari berbagai agama menyerukan untuk dikembangkannya etika kesalingan, menghargai dan saling mencintai.

"Perlakuan orang lain sebagaimana engakau ingin diperlakukan. Atau sebaliknya, janganlah engkau perlakuan orang lain dengan cara yang engkau sendiri tidak ingin menginginkannya," pungkas pendiri Fahmina Institute ini. []