Rahmah

Ramai Kudeta Kepemimpinan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Ramai Kudeta Kepemimpinan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Kudeta (Istimewa)

AKURAT.CO Kudeta adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara ilegal dan sering kali bersifat brutal, inkonstitusional berupa "penggambilalihan kekuasaan", "penggulingan kekuasaan" sebuah pemerintahan negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan. Demikian sebagaimana dikutip dari Wikipedia.

Al-Qur'an sendiri meminta agar umat Islam selalu taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada para pemimpin. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An-Nisa Ayat 59).

Kudeta dalam Islam amat dilarang. Ini misalnya diisyaratkan dalam sebuah hadis yang menyatakan bahwa saat didapati pemimpin yang tidak baik hendaknya kita bersabar. Nabi Muhammad Saw bersabda dalam sebuah hadisnya:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِه شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيْتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Artinya: “Siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang ia benci maka hendaklah ia bersabar karena siapa yang satu jengkal saja meninggalkan jamaah (kaum muslimin di bawah kepimpinanan pemimpin tersebut) lalu ia meninggal, maka matinya itu mati jahiliah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Larangan kudeta kepemimpinan karena akan menimbulkan bahaya yang berkepanjangan. Disebutkan di dalam kitab Minhaj as-Sunnah sebagai berikut:

لا يكاد يعرف طائفة خرجت على ذي سلطان إلا وكان في خروجها من الفساد ما هو أعظم من الفساد الذي أزالته

Artinya: “Tidaklah diketahui sekolompok orang yang memberontak/kudeta kepada penguasa yang sah, kecuali pemberontakan itu sendiri kerusakannya lebih besar dari kerusakan yang ingin mereka hilangkan.” (Mihajus Sunnah 3/391, Muassasah Quthubah, syamilah)

Bahkan ulama Syafi’iyyah terkenal, imam An-Nawawi menjelaskan soal pelarangan kudeta sebagai berikut:

وأجمع أهل السنة أنه لا ينعزل السلطان بالفسق وأما الوجه المذكور في كتب الفقه لبعض أصحابنا أنه ينعزل وحكى عن المعتزلة أيضا فغلط من قائله مخالف للإجماع

Artinya: “Ahlus sunnah sepakat (ijma’) bahwa penguasa tidak boleh dilengserkan (kudeta) karena kefasikannya, adapun yang disebutkan dalam beberapa kitab fikh oleh sebagaian Syafi’iyyah mengenai bolehnya mengkudeta/melengserkan maka ini salah besar dan menyelisihi ijma’.” (Syarh Muslim 12/229, Dar Ihya’ At-Turats, syamilah).

Kesimpulannya: kudeta adalah perbuatan yang dilarang di dalam Islam. Karena akan menimbulkan bahaya yang berkepanjangan. Jika didapati pemimpin yang masih belum benar, hendaknya diselesaikan melalui musyawarah dan nasehat-nasehat yang baik. Wallahu A'lam.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu