Rahmah

Ramai Cuitan Jokowi Soal Muazin, Begini Penjelasan Agama Soal Muazin dan Bilal Salat Idul Adha

Tak sedikit dari mereka yang mempertanyakan dan heran kenapa ada muazin dalam cuitan Presiden Jokowi.


Ramai Cuitan Jokowi Soal Muazin, Begini Penjelasan Agama Soal Muazin dan Bilal Salat Idul Adha
Cuitan Jokowi Salat Idul Adha Melalui Akun Twitter @Jokowi

AKURAT.CO  Cuitan Jokowi soal muazin di salat Idul Adha menjadi ramai disorot berbagai media sosial. Tak sedikit dari mereka yang mempertanyakan dan heran kenapa ada muazin dalam salat Idul Adha. Mengingat pada pelaksanaan salat Idul Adha tidak dikumandangkan azan sehingga sosok muazin tidak diperlukan dalam salat hari raya tersebut.

Cuitan tersebut langsung dibanjiri ribuan komentar oleh netizen. Berikut redaksi cuitan Jokowi yang dibuat pada Selasa, (20/7/2021).

"Salat Idul Adha pagi ini di halaman Istana Bogor dengan jemaah terbatas. Bertindak sebagai muazin, imam dan khatib adalah anggota Paspampres," tulis Jokowi dalam akun Twitter miliknya seperti dikutip Akurat.co Rabu, (21/7/2021).

Lantas bagaimana penjelasan agama terkait pemaknaan Bilal dan Muazin?

Pada dasarnya, bilal atau muazin pada pelaksanaan shalat Idul Adha adalah sama, mereka dianjurkan untuk menyeru dengan lantang “as-shalāta(u) jāmi‘ah.”

الصَّلَاةَ جَامِعَةً 

As-shalāta(u) jāmi‘ah.

Artinya: “(Marilah) shalat Idul Adha berjamaah,".

Seperti dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin, Bilal memanggil jama'ah seperti berlaku dalam shalat­-shalat sunnah: shalat Hari Raya, Tarawih, Witir, dan shalat Gerhana. Biasanya ia memanggil jama'ah dengan kata-kata "ash-shalah" atau ''Halumma ilash-shaah" (mari shalat). Dan kurang tepat (makruh) bila memakai kata-kata ”Hayya alash-shalah”.

Keterangan lain dalam kitab Nihayatus Zain, Bilal juga diadakan pada setiap dua rakaat shalat Tarawih. Bilal berlaku juga untuk shalat sunnah yang tidak disunnahkan bejama'ah (tetapi biasanya dilaksanaan dengan jama'ah, seperti shalat Dhuha). Sedangkan shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjama'ah dan dijalankan sendiri-sendiri, tentu tidak memerlukan Bilal.

Bilal biasanya mengajak para jamaah dengan menggunakan bahasa Arab.

قال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَكَلَّمَ بِالْعَرَبِيَّةِ كَتَبَ كَلَامُهُ ذِكْرًا

Rasulullah bersabda: "Siapa berbicara dengan bahasa Arab, itu tercatat sebagai dzikir,”. (I’anatuth Thalibin, Juz I, hlm 154).

Seorang imam ketika membaca takbir intiqal (takbir untuk perpindahan rukun shalat, misalnya dari berdiri ke ruku’, dari ruku’ ke sujud) disunnahkan bersuara keras. Demikian pula Bilal ketika ia menyampaikan aba-aba. Hal ini dikandung maksud untuk dzikir dan agar dapat didengar makmum lain. (Nihayatuz Zain, hlm 141). Wallahu A'lam []

Sumber: Nu Online