Lifestyle

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul


Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul
Jumpa Media jelang Rakornas Bidang Perpustakaan 2020 di Executive Lounge Lt. 24 Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jumat,(21/2) (AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe)

AKURAT.CO,  Perpustakaan merupakan lembaga yang mampu memastikan setiap warga negara memperoleh akses pengetahuan secara terbuka di mana dan kapan pun mereka berada. Perpustakaan memainkan peran penting mewujudkan sumber daya manusia yang unggul, mandiri dan berdaya saing di era global. 

“Perpustakaan sebagai ruang terbuka bagi masyarakat berkontribusi aktif mendukung pembangunan manusia sekaligus bagian dari upaya mempercepat pengurangan kemiskinan yang disebabkan karena persoalan konektifitas dengan sumber daya pengetahuan,” ucap Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, pada Jumpa Media jelang Rakornas Bidang Perpustakaan 2020 di Executive Lounge Lt. 24 Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jumat, (21/2), yang dihadiri Akurat.co.

Kemampuan literasi bukan lagi sebatas baca tulis tapi sudah dapat memaknai dan memahami segala informasi maupun ilmu pengetahuan yang diperoleh dan mengkreasi berbagai produk dan jasa.

Inovasi dan Kreativitas Pustakawan Dalam Penguatan Budaya Literasi Untuk Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju” adalah tema yang diangkat pada agenda Rakornas Bidang Perpustakaan 2020 kali ini. Tema ini menuntut kemampuan para pustakawan dalam mengelaborasikan sumber-sumber informasi, sehingga masyarakat memperoleh kecakapan keterampilan yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan.

Rakornas Bidang Perpustakaan 2020 yang dihelat selama tiga hari pada 25-27 Februari 2020 di Hotel Bidakara, Jakarta, dijadwalkan dibuka secara resmi oleh Menteri Dalam Negeri, Prof. Dr. Tito Karnavian, Ph.D.

Rakornas mengupas berbagai kebijakan yang dipaparkan secara bergantian oleh Bappenas, Kemenkeu, Kemendikbud, Kemendes-PDTT, Komisi X DPR RI, dan Perpustakaan Nasional sendiri.

Rakornas Bidang Perpustakaan 2020 ini dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari seluruh dinas perpustakaan, Bappeda, berbagai forum perpustakaan, asosiasi penerbit dan profesi, pengusaha rekaman, pegiat literasi, dan para pustakawan.

"Kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan Tahun 2020 ini bertujuan untuk mengintegrasikan, dan mensinkronisasikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca antara pemangku kepentingan pembangunan perpustakaan lintas pusat dan daerah," sambung Kaperpusnas.

Dia menambahkan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia yang unggul, mandiri dan mampu berdaya saing di era global.

Hal ini sesuai dengan peran perpustakaan dalam mewujudkan masyarakat berpengetahuan dan berkeahlian. Oleh karena itu, perlu ikhtiar kolektif agar kegemaran membaca dan memanfaatkan layanan perpustakaan dapat menjadi bagian dari hidup keseharian masyarakat

"Membaca merupakan faktor esensial dalam upaya membangun fondasi yang kokoh bagi terwujudnya budaya literasi, inovasi dan kreativitas masyarakat,” sambung dia.

Perpusnas kini hadir untuk memberikan layanan secara prima kepada masyarakat agar dapat meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Kepala Perpustakaan Nasional. Muhammad Syarif Bando mengatakan, dalam regulasi tersebut, ditekankan bahwa masyarakat memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan, berikut memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan.

Menurutnya, peningkatan budaya literasi, inovasi dan kreativitas merupakan Kegiatan Prioritas Nasional yang dituangkan dalan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020- 2024 diharapkan mampu mewujudkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam menyongsong era keterbukaan dan menyongsong bonus demografi 2035.

Syarif yakin kesenjangan pembangunan manusia antardaerah, khususnya pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar harus dipersempit. Salah satu upaya mempersempit kesenjangan tersebut ialah meningkatkan akses pengetahuan ke seluruh pelosok tanah air.

“Perpustakaan merupakan lembaga yang mampu memastikan setiap warga negara memperoleh akses pengetahuan secara terbuka di mana dan kapan pun mereka berada," kata dia.

Jumpa Media jelang Rakornas Bidang Perpustakaan 2020 di Executive Lounge Lt. 24 Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jumat,(21/2). AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe

Mengenai transformasi perpustakaan, Muhammad Syarif Bando berharap perpustakaan memiliki peran strategis dalam upaya peningkatan literasi masyarakat Indonesia. Melalui penyediaan informasi, dan berbagai bahan bacaan masyarakat. Perpustakaan berperan penting dalam menciptakan masyarakat dengan kemampuan literasi lebih tinggi, sehingga mendorong perubahan kualitas hidup masyarakat.

"Perpustakaan Nasional bertugas melaksanakan pembinaan dan pengembangan semua jenis perpustakaan di Indonesia. Oleh karena itu, Perpusnas terus berinovasi dan menggalakkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dan literasi. Hasilnya merambah ke puluhan perpustakaan provinsi, kabupatan dan ratusan tingkat desa/kelurahan. Literasi untuk kesejahteraan tidak hanya menyasar pada masyarakat umum secara luas," ujarnya.

Hal ini terus diusahakan karena kemampuan literasi adalah gagian dari modal manusia merupakan salah satu kontributor utama bagi pertumbuhan.

"Individu dengan kemampuan literasi yang baik, memiliki peluang besar untk sukses di pasar kerja," ungkap Syarif.

Komitmen ini diwujudkan dalam berbagai bentuk strategi khususnya untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat Indonesia dan bentuk nyatanya sekarang bisa dirasakan lewat pelayanan secara terbuka kepada seluruh masyarakat lewat akses secara digital.

Kiprah kegiatan dan inovasi yang telah dilakukan Perpusnas dan sebagian perpustakaan di provinsi dan daerah, khususnya dalam tiga tahun terakhir ini mewujudkan layanan pengetahuan, informasi nasional-global, budaya literasi universal berbasis TIK dan inklusi sosial.

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk saling berbagi pengalaman, belajar konstektual, dan berlatih keterampilan kerja untuk peningkatan kualitas hidup.

Sasaran transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial tahun 2019 pada 21 perpustakaan provinsi, 60 perpustakaan kabupaten/kota dan 300 perpustakaan desa. Pada tahun 2020 ini akan ditingkatkan menjadi 680 perpustakaan desa.

"Demi ekstensifikasi dan penguatan layanan perpustakaan, Perpusnas memberikan berbagai bantuan dalam rangka penguatan dan pemerataan layanan perpustakaan yang baik di seluruh Indonesia atau Tanah Air ini," jelas dia.

Berdasarkan data Perpusnas, bantuan koleksi dan pengembangan perpustakaan telah tersebar di berbagai tempat. Untuk perpustakaan pondok pesantren ada 1.034 perpustakaan, perpustakaan desa/kelurahan tersedia sebanyak 21.281. Lalu perpustakaan lapas ada 337, perpustakaan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan Terluar) 300 dan Perpustakaan Komunitas sebanyak 720 .

Dalam upaya peningkatan kegemaran membaca sampai ke daerah 3T dan transmigrasi, Perpustakaan Nasional RI memberikan bantuan kepada perpustakaan desa berupa masing-masing buku sebanyak 450 judul/900 eksemplar dan 2 rak buku. Sampai dengan tahun 2019 telah diberikan bantuan sebanyak 300 perpustakaan desa yang tersebar dalam 33 provinsi.[]

Irma Fauzia

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu