Lifestyle

Rajin Olahraga tapi Kena Serangan Jantung, Ini Penyebabnya

Mirisnya, banyak atlet yang malah terkena serangan jantung.


Rajin Olahraga tapi Kena Serangan Jantung, Ini Penyebabnya
Penyakit jantung pada atlet

AKURAT.CO, Legenda bulu tangkis Indonesia, Markis Kido, meninggal dunia pada Senin (14/6/2021) malam WIB. Markis Kido meninggal dunia diduga karena mengalami serangan jantung saat sedang bermain bulu tangkis di Tangerang.

Sebelum meninggal, Markis Kido diketahui memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Sebelumnya, pemain sepakbola Denmark Christian Eriksen mengalami cardiac arrest atau henti jantung di tengah lapangan saat bertanding melawan Finlandia. Saat itu, gelandang Denmark itu langsung jatuh hingga tak sadarkan diri. 

Jantung merupakan organ vital utama ada tubuh yang harus dijaga kesehatannya. Jantung bekerja sebagai pompa darah yang akan mengalir keseluruh tubuh.  Oleh sebab itu, kamu wajib menjaga kesehatan jantung. Salah satunya adalah dengan olahraga dan gaya hidup sehat. 

Namun, faktanya atlet yang rajin berolahraga dan punya gaya hidup sehat pun tak luput dari penyakit jantung. Eric Larose ahli jantung di Quebec Heart and Lung Institute mengatakan, sebagian besar pria meninggal karena serangan jantung. 

Menurut laporan Owen Anderson yang berjudul “Heart attack risks are greater for athletes who compete in endurance sports” pada 2012, satu dari 50.000 atlet berisiko tinggi terkena serangan jantung. Hal tersebut karena adanya kandungan enzim cardiac troponin I yang kerap meningkat.

Enzim ini meningkat disebabkan beberapa kondisi, seperti usia dan aktivitas. Apabila fisik tak mampu lagi mengimbangi lonjakan enzim ini, kemungkinan besar seseorang akan terkena serangan jantung.  Namun, enzim tersebut biasanya ditemukan pada mereka yang menderita infark miokard (serangan jantung), gagal jantung kongestif, atau miokarditis (radang otot jantung).

Dokter ahli jantung dari RS Mount Elizabeth Singapura, Dr Paul Chiam  pun menyebutkan jika serangan jantung saat olahraga biasanya disebabkan oleh gangguan irama jantung atau aritmia. Gangguan irama jantung tersebut jamak disebabkan gangguan penebalan otot jantung (kardiomiopati hipertrofik).

Kardiomiopati hipertrofik menyebabkan otot jantung menebal dengan progresif.  Penebalan otot ini menyebabkan serambi dan bilik jantung tertutup oleh otot, sehingga darah tak dapat masuk ke dalam jantung. Akibatnya, jantung tidak mendapatkan suplai darah sehingga tidak bisa bekerja dengan baik. Inilah yang menyebabkan jantung berhenti mendadak dan menimbulkan kematian.

Tak hanya itu saja, Riset di University of Innsbruck di Austria membuktikan  bahwa olahraga berlebihan memberi lebih banyak tekanan pada jantung sehingga membuat rentan mengalami serangan jantung akut atau kematian jantung mendadak. 

Untuk menghindari hal itu, American Heart Association merekomendasikan agar atlet menjalani pemeriksaan fisik dan Elektrokardiogram (EKG). EKG dapat mengidentifikasi penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya pada remaja yang memiliki riwayat keluarga dengan kematian jantung dini. 

Selain itu, siapapun yang sudah merasakan gejala penyakit jantung, seperti apabila sudah muncul gejala sakit jantung, segeralah memriksakan diri ke dokter. beberapa gejala penyakit jantung adalah

rasa sakit di beberapa bagian tubuh, khususnya di bagian dada, yang kemudian menjalar hingga leher, lengan, ulu hati, bahkan punggung. Gejala ini biasa terjadi dengan disertai keringat dingin, sesak napas, dan irama degup jantung yang lebih cepat.