News

Raja Salman Senggol Nuklir Iran, Sebut Timur Tengah Harus Bebas dari Senjata Pemusnah Massal

Raja Salman menegaskan bahwa Saudi mendukung upaya dunia untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.


Raja Salman Senggol Nuklir Iran, Sebut Timur Tengah Harus Bebas dari Senjata Pemusnah Massal
Raja Salman berpidato di sesi ke-76 Majelis Umum PBB dalam pesan yang direkam sebelumnya (AP)

AKURAT.CO Arab Saudi kembali menyatakan ketegasannya soal penolakan terhadap pengembangan senjata nuklir Iran. 

Pernyataan itu dilontarkan langsung oleh Raja Salman bin Abdulaziz ketika para pemimpin dunia sedang membicarakan soal Teheran dan pemulihan pakta nuklir 2015 di Sidang Majelis Umum PBB (UNGA), Rabu (22/9).

Sebagaimana diwartakan Arab News, di sidang itu, Raja Salman menegaskan bahwa Saudi mendukung upaya dunia untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Raja Saudi itu terlihat menekankan bahwa kawasan Timur Tengah harus bebas dari 'senjata pemusnah massal'. 

Kendati demikian, Raja Salman juga mengaku memiliki  harapan agar Kerajaan bisa mengadakan dialog awal untuk membangun kepercayaan dengan Iran.

"Kerajaan menekankan pentingnya menjadikan Timur Tengah sebagai kawasan yang bebas dari semua senjata pemusnah massal.

"Oleh karena itu, kami mendukung upaya internasional yang bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

"Kerajaan sangat prihatin dengan langkah-langkah Iran yang bertentangan dengan komitmennya serta deklarasi harian dari Iran bahwa program nuklirnya damai.

"(Tapi) Iran adalah negara tetangga. Kami berharap pembicaraan awal kami dengan Iran akan mengarah pada langkah-langkah pembangunan kepercayaan yang konkret, langkah-langkah yang akan mencapai aspirasi bangsa kami untuk hubungan kolaboratif," kata Raja Salman dalam pidato yang direkam sebelumnya pada hari kedua Debat Umum Tahunan tingkat tinggi di UNGA ke-76, New York.

Baca Juga: Iran Mulai Produksi Logam Uranium yang Bisa untuk Senjata Nuklir, Negara Barat Ketar-Ketir

Kemudian, selain menyinggung masalah nuklir Iran, Raja Salman juga berbicara tentang isu lain, termasuk persoalan terorisme. Raja mengatakan bahwa Saudi terus menghadapi ide-ide ekstremis berdasarkan kebencian dan pengucilan, serta kegiatan kelompok teroris dan milisi sektarian yang menghancurkan kehidupan dan bangsa.

"Kerajaan menekankan perlunya menghadapi semua orang yang mendukung, mensponsori, membiayai atau melindungi kelompok teroris dan milisi sektarian atau menggunakannya untuk menyebarkan kekacauan, kehancuran, dan hegemoni," katanya. 

Terkait itu, Raja Salman kembali menyerang kelompok Houthi. Ia mengatakan bahwa Kerajaan tidak bisa mentolerir segala ancaman dari aktivitas militer Houthi di Yaman serta serangan mereka yang kerap ditargetkan ke Saudi.

"Inisiatif perdamaian di Yaman yang diajukan oleh Kerajaan Maret lalu seharusnya untuk mengakhiri pertumpahan darah dan konflik. 

"Itu seharusnya mengakhiri penderitaan rakyat Yaman, tetapi, sayangnya, milisi teroris Houthi menolak solusi damai. Mereka telah menempatkan taruhan mereka pada opsi militer untuk mengambil alih lebih banyak wilayah di Yaman.

"Kerajaan mempertahankan haknya yang sah untuk membela diri dalam menghadapi serangan rudal, serangan rudal balistik, dan penggunaan perahu jebakan terhadap Kerajaan," ungkap Raja Salman.

Kemudian, sama dengan pidato banyak pemimpin dunia selama debat, Raja Salman ikut menegaskan kembali komitmen negara atas perjuangan global melawan pandemi Covid-19.

Di UNGA, Raja Salman berjanji bahwa Saudi akan tetap menjadi donor internasional utama dalam mengatasi pandemi dan krisis kemanusiaan lainnya, terlepas dari masalah ekonomi negara itu.

Dia mengatakan sumbangan Saudi senilai USD 800 juta (Rp11,3 triliun)  sudah membantu negara-negara miskin memerangi Covid-19. Ia lalu menambahkan bahwa Kerajaan akan terus membayar meskipun 'pundi-pundinya menyusut'.

"Tantangan yang dihadapi masyarakat internasional saat ini membutuhkan penguatan kerja sama internasional multilateral. Pandemi Covid-19 telah menunjukkan jalan menuju pemulihan berkelanjutan melalui kolaborasi antara kita semua dalam kerangka kerja kolektif.

"Kerajaan memiliki peran penting dalam memimpin respons dunia terhadap pandemi melalui kepresidenannya di G20 tahun lalu, dan Kerajaan telah mendukung upaya internasional untuk menghadapi pandemi dengan jumlah USD 500 juta, selain USD 300 juta yang digunakan untuk membantu negara-negara dalam menghadapi pandemi.”

"Kerajaan Arab Saudi terus berkomitmen pada peran pembangunan dan kemanusiaannya dalam membantu negara-negara yang paling membutuhkan untuk menghadapi bencana alam dan krisis kemanusiaan," imbuh Raja Salman.

Setelahnya, Raja Salman menekankan bahwa pemulihan global dari pandemi harus dilakukan secara berkelanjutan dan ramah iklim.

"Kerajaan menyadari pentingnya upaya bersama dan terpadu untuk menghadapi perubahan iklim dan dampaknya," tambahnya. 

Raja Salman juga telah menyoroti sejumlah proyek yang dipimpin Saudi, termasuk inisiatif Green Saudi dan Green Middle East, di mana Kerajaan telah menempatkan uangnya dalam upaya memerangi perubahan iklim.

Raja Salman, yang telah memerintah Saudi sejak 2015, kemudian menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, yang sejalan dengan rencana pembangunan Saudi Vision 2030 sendiri.

"Kami ingin ekonomi kita menjadi salah satu perintis. Kami ingin masyarakat kami berinteraksi dengan seluruh dunia," katanya.[]