Abiwodo, S.E., M.M.

Penulis adalah profesional perbankan
Ekonomi

Quiet Quitting vs AKHLAK BUMN

Dari fenomena quiet quitting atau 'berhenti diam-diam' ini, beberapa orang mulai punya pandangan yang berbeda soal karir

Quiet Quitting vs AKHLAK BUMN
Gedung Kementerian BUMN (AKURAT.CO)

AKURAT.CO Kamu kerja tapi ngerasa tanpa makna? Jalanin aja layaknya sebuah hubungan yang tanpa terlalu banyak berharap. Mmm…jangan-jangan kamu sedang kena gejala 'quiet quitting'. Di Amerika Serikat seorang tiktokers bernama Zaidlepellin yang diunggah beberapa bulan yang lalu, mengatakan bahwa saat ini sedang mengalami quiet quitting artinya dia tidak benar-benar keluar dari pekerjaan sekarang namun sudah tidak berpikir lagi soal karir.

Dari fenomena quiet quitting atau 'berhenti diam-diam' ini, beberapa orang mulai punya pandangan yang berbeda soal karir. Mereka tidak lagi mengejar promosi dan berusaha untuk bekerja lebih. Mereka hanya bekerja sesuai deskripsi pekerjaannya, dan bagi mereka posisi saat ini sudah cukup baik.

Quiet quitting ini bukan berarti berhenti bekerja, lho. Mereka hanya berhenti bekerja ketika jam lima sore dan punya waktu luang bersama keluarga. Mungkin inilah normal baru bagi pekerja Gen Z. Karyawan yang berkontribusi lebih justru dianggap unik.

baca juga:

Bicara fenomena quiet quitting, tentu sudah banyak referensi yang bisa kita temukan tentang definisi hingga penyebab kemunculannya. Ada yang bilang akibat work from home di masa pandemi Covid-19 yang melahirkan jam kerja tanpa batas, lantas burn out dan stres. Ada pula yang menganggap karena komunikasi yang tidak lancar antara atasan dan bawahan. Belum lagi perkara honor yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang terus bertambah, termasuk KPI yang harus dicapai dan tuntutan untuk melampaui target.

Alhasil, hadirlah rangkaian impian yang sederhana nan realistis. Yaitu, mengejar kualitas hidup dan ogah stres dengan penghasilan yang tidak sesuai pekerjaan. Bahkan sepertinya muncul idealisme baru di kalangan Gen-Z, yakni, tidak lagi mengejar 'pekerjaan impian', melainkan pekerjaan yang bisa menyokong impian.

Gayung bersambut. Dari quiet quitting, kini muncul fenomena 'quiet firing' atau pemecatan diam-diam dari sisi perusahaan. Sebuah nama baru dari jurus klasik perusahaan, yakni, mengeluarkan karyawan tanpa memecat dan membayar pesangon. Salah satu taktik yang termashur adalah membangun situasi tidak nyaman bagi karyawan. Bisa dengan memberikan pekerjaan lebih dan target yang tidak masuk akal, menyunat honor, selalu disalahkan, dan lain-lain.

Miris! Mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan pandangan saya pada fenomena quiet quitting dan quiet firing. Boleh jadi karena saya adalah profesional perbankan yang kebetulan di bank milik negara alias bank BUMN, yang sudah tertanam kuat ihwal budaya kerja, melayani negeri, dan bicara kemajuan bangsa.

Sedikit beralih dari pembahasan quiet quitting, mungkin para pembaca masih ingat tentang AKHLAK, akronim dari Amanah; Kompeten; Harmonis; Loyal; Adaptif; dan Kolaboratif, yang merupakan Core Values dari BUMN. Saya merasa core values ini menjadi benteng atas fenomena-fenomena tadi, setidaknya bagi saya pribadi.

Akhlak BUMN tersebut sudah menjadi panduan perilaku dari setiap sumber daya manusia (SDM) BUMN untuk diimplementasikan dalam perilaku keseharian, lantas berhasil membentuk budaya kerja di BUMN. Poinnya, tanpa disadari Akhlak BUMN menjadi sangat relevan dengan fenomena quiet quitting dan quiet firing yang sedang viral ini.

Core value serupa Akhlak BUMN ini tampaknya bisa menjadi penyelamat di tengah benturan quiet quitting dengan quiet firing. Di dalamnya terdapat proses internalisasi nilai agar semua komponen sumber daya di perusahan memiliki satu kesamaan cara pandang dan arah. Seperti derasnya arus sungai yang disuplai dari anak-anak sungai, semuanya mengarah ke laut dengan arus yang deras dan volume yang besar. Demikian pula internalisasi visi yang bisa menguatkan pencapaian visi perusahaan sekaligus menjaga kesinambungannya.

Yang pasti, wujud dan pengaktifan internalisasi nilai ini sangat dipengaruhi oleh bermacam stimulasi yang ada di lingkungan sekitar. Dalam konteks ini, pemimpin dan jajaran top manajemen diuji kemampuannya. Harapannya, muncul budaya kerja, karakter juga kepribadian yang bertanggung jawab dalam diri setiap orang yang ada di perusahaan.

Jika internalisasi nilai dilakukan, saya yakin benturan quiet quitting dan quiet firing bisa diredam dan bertemu di titik tengah. Perusahaan pasti akan mendorong dan meningkatkan pengalaman karyawan dalam bekerja dengan menyesuaikan kapasitas karyawannya, memperhatikan hak istirahat dan lembur, dan memberikan apresiasi dalam sebuah prestasi, seperti bonus, promosi atau kenaikan gaji. Sebaliknya, karyawan tidak lagi sekadar bekerja. Ada semangat memajukan perusahaan, meraih prestasi, memberikan yang terbaik tanpa burn out, jauh dari stres, sembari meningkatkan kualitas hidup bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Kita memahami adanya perbedaan prioritas bekerja di setiap orang. Ada yang ingin mendapatkan karir cemerlang, penghasilan yang lebih baik, malah ada yang prioritasnya sederhana -- bekerja karena dekat dengan rumah, atau bahkan pekerjaan itu bukanlah prioritas utama dalam hidupnya. Tapi kalau internalisasi nilai dalam perusahaan berhasil dilakukan, lantas terbangun lingkungan dan budaya kerja yang positif, saya yakin prioritas kerja masing-masing orang tadi melebur, larut dan menyatu dalam arus besar yang mengarah ke titik dan tujuan yang sama.

Dari fenomena quiet quitting dan quiet firing ini, saya merasa jadi orang yang beruntung. Saya ada di lingkungan kerja yang mungkin semua orang di dalamnya merasa sebagai lokomotif kemajuan Indonesia. Tentu ditopang dengan AKHLAK BUMN yang sudah menapaki tahun keduanya dalam mengawal Culture Journey insan BUMN.

Bagaimana dengan Anda, apakah termasuk kaum rebahan?