Lifestyle

Putuskan Rantai Covid-19, Abbott Panbio Antigen Masal Dukung Program 3T

Alat ini memiliki sensitivitas 98,1


Putuskan Rantai Covid-19, Abbott Panbio Antigen Masal Dukung Program 3T
Petugas melakukan pengambilan cairan dari hidung dan mulut untuk tes swab Antigen bagi para perwira dan anggota TNI serta Wartawan yang akan ikut dalam kapal KRI Semarang, di Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara, Senin (11/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Pandemi Covid-19 telah berlangsung setahun lebih. Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikannya, salah satunya dengan 3T (tracing, testing dan treatment) yang sangat berguna untuk identifikasi awal Covid-19, sehingga cepat cegah penyebarannya.

Pemerintah telah menetapkan swab antigen sebagai salah satu metode testing yang dapat digunakan. Menyadari pentingnya tes swab antigen yang bukan hanya akurat dan cepat tapi juga nyaman digunakan, Abbott, perusahaan peralatan medis dan perawatan kesehatan asal Amerika mengeluarkan produk swab antigen terbaru yaitu Abbott Panbio Antigen Nasal.

“Abbott fokus untuk membawa serangkaian alat tes Covid-19 yang andal, cepat, akurat dan nyaman ke Indonesia secepat mungkin untuk membantu mengatasi pandemi ini,” ungkap Sanjeev Johar, Wakil Presiden Divisi Bisnis Diagnostik Cepat Abbott Asia Pasifik, dalam keterangannya kepada Akurat.co.

Penuturan dr. Indah Susanti, dokter yang sering menangani pengetesan swab PCR dan antigen, bahwa sangat penting untuk memastikan test kit yang digunakan (untuk test antigen) sudah sesuai dan memiliki izin edar dari Kemenkes, telah direkomendasikan oleh WHO, atau memiliki keakuratan yang ditetapkan pemerintah yaitu memiliki sensitivitas ≥ 80% dan spesifisitas ≥ 97%.

Lebih jauh dr. Indah menceritakan bahwa ia sering menerima keluhan pasien yang merasa tidak nyaman baik ketika proses pengambilan sampel sekresi maupun setelahnya, terutama pada anak-anak. Karena proses yang kadang menimbulkan traumatis tersebut, terkadang nakes seperti dirinya harus berada dekat dengan pasien untuk waktu yang lebih lama dan hal tersebut tentu meningkatkan resiko penularan. Maka dari itu, nakes harus selalu berhati-hati dan melengkapi dirinya dengan pelindung yang maksimal.

Abbott Panbio Antigen Nasal menjawab kondisi tersebut karena penggunaannya cenderung mudah; untuk pengambilan sampel hanya sedalam 2 cm dari lubang hidung, sehingga meminimalkan reflex yang mengganggu seperti batuk dan bersin tanpa mengurangi keakuratan hasilnya. Alat ini memiliki sensitivitas 98,1% dan spesifitas 99,8%.

Alat yang kini tersedia di banyak point of care ini dapat digunakan tanpa laboratorium maupun alat instrumen tambahan lain dan mampu mengidentifikasi pasien yang tertular Covid-19 dalam waktu 15 menit sehingga cocok digunakan untuk pengujian dalam skala besar.

Abbott Panbio Antigen Nasal diklaim sebagai satu-satunya produk antigen nasal yang telah mendapat rekomendasi Emergency Used Listing (EUL) WHO dan tentunya telah memiliki ijin edar dari Kemenkes hingga memenuhi syarat penggunaan yang ditetapkan oleh Kemenkes.

Seberapa efektifnya 3T untuk menyetop penyebaran Covid-19?

“Berdasarkan studi epidemiologi, Indonesia menghadapi potensi ledakan kasus Covid-19 paska Idul Fitri dan hal tersebut sudah pernah terjadi di Indonesia”, tutur Dr. Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD (cand.), Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health, Griffith University Australia.

Dr, Dicky menekankan pentingnya memperkuat survailans epidemiologi di masyarakat seperti pengumpulan data deteksi kasus, sistem pelaporan, pengolahan, analisis hingga interpretasi data yang dapat dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan.

Selain itu, aspek-aspek umum di layanan kesehatan juga harus diperkuat. Misal, adanya program jangkauan ke rumah-rumah, penguatan sistem kesehatan (SDM, alat, obat dll), menyiapkan mekanisme rujukan serta penguatan survailans genomic (di level pusat).

Memberlakukan pembatasan pergerakan manusia (seperti PSBB) sebelum masa liburan tiba juga harus dilakukan untuk mengurangi risiko sakit. Dan meski telah mendapatkan vaksinasi, setiap individu harus memiliki prinsip jaga diri, menjaga konsistensi dalam penerapan protokol kesehatan, karena cukup hanya 1 orang terinfeksi untuk memperburuk situasi.

Kesimpulannya melakukan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilisasi/interaksi) dan 3T masih merupakan cara yang paling efektif untuk menanggulangi pandemi selain menguatkan survailans epidemiologi.[]

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co