Ekonomi

Pusing! Penjualan Hasil Produk Tembakau Lainnya Anjlok 50 Persen Imbas PPKM

APVI meramal semester I-2021 penjualan produk HPTL menurun sampai 50 persen karena pandemi dan makin ketatnya PPKM yang membatasi mobilitas masyarakat.


Pusing! Penjualan Hasil Produk Tembakau Lainnya Anjlok 50 Persen Imbas PPKM
Warga menunjukkan kemasan cairan vape saat berlangsung penyerahan Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) kepada sejumlah pengusaha pabrik Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) di kantor Direktorat Bea Cukai, Jakarta, Rabu (18/7). Ditjen Bea Cukai resmi menerapkan tarif cukai pada cairan vape sebesar 57 persen dari Harga Jual Eceran (HJE) mulai 1 Juli 2018 yang masa pengimplementasiannya diundur hingga 1 Oktober 2018. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.)

AKURAT.CO, Ketua Umum Asosiasi Personal Vapers Indonesia (APVI) Aryo Andriyanto mengungkapkan pandemi yang saat ini belum usai ditambah makin ketatnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi mobilitas masyarakat, turut berdampak kepada industri hasil produk tembakau lainnya (HPTL).

"Kami pun terdampak pandemi, PPKM karena adanya pembatasan waktu penjualan yang diperbolehkan untuk ritel fisik," ujar Aryo dikutip dari Antara, Rabu (28/7/2021).

Tidak hanya akibat pembatasan operasi, Aryo menjelaskan tekanan terhadap penjualan produk-produk HPTL juga terjadi akibat daya beli masyarakat yang terus melemah mengingat gelombang kedua infeksi COVID-19 terjadi saat ekonomi sama sekali belum pulih.

APVI bahkan memperkirakan penjualan HPTL tahun ini akan turun lebih dalam dibandingkan tahun lalu. Sampai semester I-2021 penjualan produk HPTL menurun sampai 50 persen, sementara sampai akhir tahun nanti diprediksi akan terjadi penurunan sampai 35 persen.

Sekretaris Jenderal APVI Garindra menambahkan saat ini sejumlah produsen produk HPTL bahkan telah mengurangi produksi untuk meminimalkan potensi kerugian, sekaligus sebagai upaya bertahan di tengah pandemi ditambah pembatasan operasi ritel vape dikarenakan PPKM.

“Fokusnya sekarang bagaimana buat survive, beberapa produsen ada yang mengurangi produksi, ada juga yang memotong marjin. Tapi paling banyak kasusnya adalah mengurangi produksi. Sejumlah toko juga banyak tutup secara permanen, meskipun pertumbuhan beberapa toko baru juga ada," ujar Garindra.

Di tengah kondisi PPKM, sejumlah pengecer HPTL memang lebih fokus untuk memasarkan produk secara daring. Namun, menurut Garindra, pemasaran via daring juga tak mudah, mengingat produk HPTL yang sangat variatif dan perlu aspek edukasi dan konsultasi saat memasarkannya kepada konsumen.

Terpukulnya industri HPTL tersebut, diperkirakan juga akan mempengaruhi penerimaan negara. Sejak dilegalkan pada Oktober 2018, penerimaan cukai HPTL tumbuh signifikan.

Pada 2018 HPTL menyumbang cukai Rp99 miliar, kemudian meningkat lagi menjadi Rp427 miliar pada 2019. Dan pada 2020 lalu, HPTL menyumbang kepada kas negara dari cukai sebesar Rp689 miliar.