News

Pulang dari Panti Asuhan, 17 Misionaris Amerika dan Keluarganya Diculik Geng di Haiti

Pejabat keamanan Haiti mengatakan para korban, termasuk anak-anak, diculik saat mereka meninggalkan panti asuhan.


Pulang dari Panti Asuhan, 17 Misionaris Amerika dan Keluarganya Diculik Geng di Haiti
Dalam foto ini, para tentara Haiti menjaga kantor Kejaksaan di Port-au-Prince (AFP )

AKURAT.CO  Sebanyak 17 misionaris Amerika dan keluarganya dilaporkan telah diculik oleh anggota geng di Haiti. Menurut sumber di pasukan keamanan Haiti, korban yang diculik termasuk 14 orang dewasa dan tiga anak di bawah umur.

Hingga kini belum ada yang mengakui bertanggung jawab atas insiden. Sementara, sumber pasukan mengaku bahwa pihak berwenang masih berupaya menyelidiki dan akan memberikan informasi lebih lanjut pada Minggu (17/10) pagi waktu setempat.

Seperti diwartakan CNN hingga DailyMail, peristiwa penculikan terjadi pada Sabtu (16/10) waktu setempat, di mana para misionaris awalnya mengunjungi sebuah panti asuhan di daerah Croix des Bouquets. Setelah selesai berkunjung, para korban kemudian mengadakan perjalanan pulang menuju  bandara dengan bus ke Titanyen, di utara ibu kota Port-au-Prince. Saat berada di rute itulah, mereka diculik oleh geng bersenjata yang selama berbulan-bulan terlibat dalam pencurian dan penculikan.

CNN telah menghubungi Kementerian Kehakiman Haiti dan Kepolisian Nasional tetapi mereka belum memberi komentar.

Sementara itu, kelompok bantuan Kristen yang berbasis di Ohio bernama Christian Aid Ministries, telah mengonfirmasi insiden penculikan. Kelompok itu mengatakan bahwa korban adalah para misionaris dan anggota keluarga yang berafiliasi dengan mereka. Disebutkan pula bahwa saat peristiwa terjadi, para misionaris tengah dalam perjalanan pulang setelah menghadiri program pembangunan sebuah panti asuhan di Haiti. 

Organisasi tersebut juga telah mengirim pesan suara hingga doa ke berbagai misi keagamaan.

"Ini adalah peringatan doa khusus. Berdoalah agar para anggota geng mau bertobat dan beriman kepada Yesus Kristus.... Pria, wanita, dan anak-anak telah ditahan oleh geng bersenjata. Direktur lapangan misi dan kedutaan Amerika sedang bekerja untuk melihat apa yang bisa dilakukan," kata organisasi tersebut dalam pembacaan doa berdurasi satu menit.

Dilaporkan Washington Post, salah satu misionaris yang diculik juga sempat memposting permintaan bantuan di grup WhatsApp. Dalam pesannya, korban minta untuk didoakan.

"Tolong doakan kami!! Kami disandera, mereka menculik sopir kami. Doa doa doa. Kami tidak tahu ke mana mereka membawa kami," kata pesan itu.

Tidak jelas apakah pesan itu adalah video atau teks yang dikirim ke grup WhatsApp, juga tidak ada informasi tentang grup WhatsApp itu sendiri dalam laporan Washington Post.

CNN tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian pesan atau laporan ini.

Pulang dari Panti Asuhan, 17 Misionaris Amerika dan Keluarganya Diculik Geng di Haiti - Foto 1
 AP via DailyMail

Pada Sabtu malam, seorang juru bicara pemerintah Amerika Serikat mengatakan mereka mengetahui laporan tentang penculikan itu.

"Kesejahteraan dan keselamatan warga AS di luar negeri adalah salah satu prioritas tertinggi Departemen Luar Negeri," kata juru bicara itu, menolak berkomentar lebih lanjut.

Penculikan telah melonjak di Haiti sepanjang 2021, dengan angka meningkat hampir 300 persen sejak Juli. Sementara sejak Januari, ada setidaknya 628 kasus penculikan, dan 29 di antaranya menargetkan orang asing, kata Pusat Analisis dan Penelitian Hak Asasi Manusia yang berbasis di Port-au-Prince.

Angka penculikan pada tahun ini pun tercatat melambung jika dibandingkan tahun 2020 yang hanya melapor 234 kasus. 

Menurut pihak berwenang, geng-geng penculik itu biasa menuntut uang tebusan mulai dari ribuan dolar hingga lebih dari USD 1 juta (Rp14 miliar). Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah geng penculik yang ada di Haiti. DailyMail mencatat mungkin ada sekitar 100 geng, dan itu hanya di Port-au-Prince saja. 

Dalam aksinya itu, geng-geng kerap menculik anak sekolah, dokter, petugas polisi, penumpang bus, dan warga sipil lainnya. 

Pada bulan April, lima imam dan dua biarawati diculik oleh sebuah kelompok geng. Kasus ini lantas memicu protes karena negara yang miskin itu gagal menjamin keamanan bagi negaranya. 

"Kekacauan politik, meningkatnya kekerasan geng, memburuknya kondisi sosial ekonomi - termasuk kerawanan pangan dan malnutrisi - semuanya berkontribusi pada memburuknya situasi kemanusiaan. Masalah keamanan Haiti ini tidak hanya bisa diatasi hanya mengandalkan polisi yang telah kewalahan dan sumber daya yang kurang," terang Kantor Terpadu PBB di Haiti, BINUH dalam laporannya bulan lalu. 

Menghadapi situasi yang kian mengkhawatirkan itu, Menteri Luar Negeri Haiti Claude Joseph langsung meminta Dewan Keamanan PBB untuk memperkuat mandat misi politik khusus PBB di negaranya. Dalam pernyataannya bulan ini, Joseph ingin PBB bisa membantu memastikan keamanan dan perlindungan bagi warga sipil dari serangan geng yang makin merajelala.

"Ini adalah harapan yang sah dari orang-orang yang telah cukup menderita dari kekerasan geng, penculikan dan kejahatan yang meluas," kata Joseph.[]