News

Puan Minta Pemerintah Beri Pendampingan Anak Yatim-Piatu Akibat Covid-19

Agar semangat hidup dan semangat belajar mereka tumbuh kembali lagi


Puan Minta Pemerintah Beri Pendampingan Anak Yatim-Piatu Akibat Covid-19
Ketua DPR RI Puan Maharani saat menjadi pembaca naskah  Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, vitrual, Selasa (1/6/2021). (Youtube Sekretariat Presiden)

AKURAT.CO, Ketua DPR RI Puan Maharani memberi perhatian khusus terhadap perlindungan anak yang kehilangan orang tua akibat virus Corona atau Covid-19.

Menurutnya, pemerintah harus memiliki data khusus terkait anak yatim piatu itu untuk kemudian memberikan perlidungan kepada mereka.

“Hingga saat ini, saya belum melihat adanya data khusus terkait anak-anak Indonesia yang kehilangan orangtua mereka karena Covid-19. Kita perlu data tersebut sebagai langkah untuk memberi perlindungan,” ujar Puan sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (5/8/2021).

Data tersebut, kata Puan, sangat diperlukan untuk memastikan negara hadir memberikan perlindungan yang tepat terhadap anak-anak yang kehilangan ortu karena pandemi Covid-19.

Politisi PDI-Perjuangan itu menuturkan, perlindungan yang akan diberikan diantaranya mulai dari santunan sampai pengasuhan, tergantung kondisi sosial masing-masing anak.

“Negara harus bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak Indonesia yang menjadi korban bencana kesehatan ini,” tegasnya.

Sementara untuk jangka pendek, tambah Puan, anak-anak yatim dan/atau piatu akibat Covid-19 ini harus segera mendapat pendampingan untuk pemulihan dampak psikologis akibat kehilangan orangtua mereka.

“Agar semangat hidup, semangat belajar mereka kembali lagi,” tuturnya.

Selain itu, Puan meminta serapan anggaran pemerintah untuk penanganan Covid-19 juga digunakan untuk program-program perlindungan bagi anak-anak yatim dan/atau piatu akibat Covid-19.

“Kalau anak-anak Indonesia hari ini banyak yang putus sekolah dan depresi karena pandemi dan menjadi yatim piatu, bangsa ini yang akan menerima dampaknya dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan,” pungkasnya.

Diketahui, Wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengatakan, keluarga besar harus diajak berunding mengenai masa depan anak yang kehilangan orangtua.

“Dalam hukum Indonesia, keluarga besar sampai derajat ketiga yang (seharusnya) mengambil alih soal perwalian,” kata Rita di Jakarta.

Derajat yang dimaksud Rita adalah kakak-adik sebagai derajat pertama. Kemudian nenek-kakek, dan derajat ketiga, paman-bibi. Masalahnya, pada masa pandemi virus corona, keluarga besar pun terimbas, secara kesehatan maupun finansial. Mengasuh anak lain, walaupun masih kerabat, akan menjadi tambahan beban.[]