Ekonomi

PTPN V Maksimalkan Peremajaan Sawit Plasma Hingga 2030


PTPN V Maksimalkan Peremajaan Sawit Plasma Hingga 2030
Buruh memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di lahan perkebunan Merlung, Tanjungjabung Barat, Jambi, Minggu (29/10). Harga TBS kelapa sawit di Provinsi Jambi periode 27 Oktober sampai 2 November 2017 naik dari Rp1.476 per kilogram menjadi Rp1.511 per kilogram, sementara harga minyak sawit mentah (CPO) naik dari Rp7.923 per kilogram menjadi Rp8.049 per kilogram. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/pd/17.)

AKURAT.CO, PT Perkebunan Nusantara V menyatakan akan terus memaksimalkan program peremajaan perkebunan sawit plasma secara bertahap hingga 2030 mendatang sebagai upaya menjawab tantangan pengembangan energi terbarukan.

Direktur Utama PTPN V, Jatmiko K Sentosa, di Pekanbaru, Kamis (21/3/2019) mengatakan luasan perkebunan sawit plasma atau milik petani yang menjalin kerjasama dengan perusahaan milik negara tersebut mencapai 60.000 hektare (Ha) dengan 90 persen diantaranya dinilai perlu peremajaan.

Ia mengatakan 90 persen atau 50.915 Ha kebun plasma sawit saat ini berstatus tua renta. Yang diremajakan baru enam persen atau berkisar 3.500 Ha.

"Peremajaan suatu keharusan. Kami akan programkan bertahap sampai dengan tahun 2030," kata Jatmiko dilansir dari Antara.

PTPN III (Persero) yang merupakan induk dari PTPN V sepakat untuk mengembangkan energi terbarukan. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman bersama antara PT Pertamina (Persero), Holding Perkebunan PT Perkebunan Nusantara III (Persero), dan PT Rajawali Nasional Indonesia (Persero).

Nota Kesepahaman tersebut terkait kerjasama penyediaan bahan baku crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah, Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) dan Bio Ethanol dalam rangka pengembangan energi baru dan terbarukan.

Kerja sama ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Direktur Utama RNI B Didik Prasetyo, dan Direktur Utama PTPN III Dolly P Pulungan di Pekanbaru, Selasa kemarin (19/3).

Dengan adanya kesepakatan tersebut, Jatmiko mengatakan PTPN V sebagai anak perusahaan dari PTPN III yang merupakan satu-satunya fokus dalam produksi TBS sawit terus berupaya menggenjot hasil produksi tandan buah segar (TBS) sawit, baik melalui perkebunan inti maupun plasma.

"PTPN V itu unik. Sedikit berbeda dengan kebanyakan PTPN, kami tidak hanya mengelola kebun inti (milik sendiri), tetapi juga bekerjasama dan mengelola kebun plasma (milik petani) yang luasnya bahkan mendekati luas kebun inti kami," jelasnya.

Dia menjelaskan pada 2018 lalu, produksi CPO yang dihasilkan PTPN V mencapai 590.000 ton. Sebagian produksi CPO tersebut berasal dari hasil panen TBS milik petani plasma dengan total pembelian mencapai 1,3 juta ton atau setara 250.000 ton CPO.

Untuk itu, dia mengatakan berdasarkan angkat tersebut, PTPN V berkomitmen terus melakukan kegiatan peremajaan perkebunan kelapa sawit plasma melalui program Badan Penyelenggara Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) serta sumber pembiayaan lainnya.

"Dengan program peremajaan yang didukung penuh pemerintah dan sinergi lembaga pembiayaan BUMN, maka peremajaan Insya Allah dapat terpenuhi seluruhnya. Asupan CPO untuk program energi baru terbarukan melalui B20 hingga B100 pun dapat kita dukung," ujarnya Optimis.

Selain meningkatkan sisi produktivitas TBS sawit dari perkebunan plasma, dia menjelaskan PTPN V yang sejak awal terus mengembangkan perkebunan sawit rakyat di Provinsi Riau juga akan meningkatkan kapasitas produksi pada pabrik-pabrik kelapa sawitnya. Saat ini, dia menuturkan rata-rata kapasita produksi di PKS PTPN V mencapai 575 ton TBS dalam satu jam.

Dengan kondisi itu, maka perusahaan telah membangun pabrik kelapa sawit dengan kapasitas yang mampu menerima TBS dari petani," jelasnya.

Dia optimis bahwa PTPN V akan terus melakukan kegiatan bisnis secara profesional, mulai dari harga yang kompetitif serta mempertahankan transparansi perusahaan sehingga kemitraan yang terjalin baik dengan para petani dapat terus tumbuh.

"Sehingga CPO yang dihasilkan siap untuk mendukung program green energy ini," tandasnya. []

Sumber: ANTARA