News

PT ACK Sengaja Bikin Rekening BCA untuk Tampung Suap Edhy Prabowo

PT ACK Sengaja Bikin Rekening BCA untuk Tampung Suap Edhy Prabowo


PT ACK Sengaja Bikin Rekening BCA untuk Tampung Suap Edhy Prabowo
Menteri KKP Edhy Prabowo usai diperiksa di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Rabu (25/11/2020). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Terdakwa kasus suap ekspor benih lobster atau benur, Edhy Prabowo akhirnya menjalani sidang perdana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta hari ini (15/4/2021).

Dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terungkap bahwa Bank Central Asia (BCA) menjadi sarang penampungan uang suap ekspor benur yang disetor para eksportir.

Rekening bank BCA itu dibikin atas nama PT Aero Citra Kargo (ACK), perusahaan yang bertugas untuk yang melakukan koordinasi dengan perusahaan pengekspor benih bening lobster (BBL) dan menerima keuntungannya saja.

"Pada tanggal 11 Juni 2020, PT ACK membuka rekening giro di Bank BCA Nomor Rekening 309-0588-221 dengan setoran awal Rp1 juta yang bertujuan untuk menerima seluruh uang biaya ekspor BBL sebesar Rp1.800 per ekor BBL," kata Jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan Edhy Prabowo di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (15/4/2021).

Jaksa mengungkap, pembuatan rekening ini dilakukan satu hari sebelum pendapatan jasa pengiriman BBL pertama diterima PT ACK pada tanggal 12 Juni 2020.

Adapun nilai Rp1.800 itu didapat dari hasil kesepakatan antara PT ACK dengan PT PLI (Perishable Logistic Indonesia), dimana PT PLI merupakan perusahaan yang berperan mengurus seluruh kegiatan ekspor BBL.

"Selanjutnya ditetapkan bahwa biaya ekspor BBL Rp1.800 per ekor BBL dengan pembagian PT PLI mendapatkan biaya operasional pengiriman sebesar Rp350 per ekor BBL," kata Jaksa.

Nantinya uang yang telah terkumpul di rekening BCA atas nama PT ACK itu disalurkan ke kantong pribadi Edhy Prabowo dan Siswadhi Pranoto Loe selaku pengurus PT ACK.

"Biaya yang telah ditetapkan dan diterima PT ACK tersebut dibagi seolah-olah dalam bentuk deviden kepada para pemegang saham sesuai dengan persentase kepemilikan sahamnya yang merupakan representasi dari terdakwa (Edhy Prabowo) dan Siswadhi Pranoto Loe," kata Jaksa.

Uang yang terkumpul itu digunakan untuk kepentingan Edhy Prabowo dan istrinya, Iis Rosita Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton, serta baju Old Navy.

Edhy diduga menerima uang Rp 3,4 miliar melalui kartu ATM yang dipegang staf istrinya. Selain itu, ia juga diduga pernah menerima USD 100 ribu yang diduga terkait suap. Adapun total uang dalam rekening penampung suap Edhy Prabowo mencapai Rp 9,8 miliar.

Bayu Primanda

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu