Olahraga

PSSI: Polisi Tahu soal Tak Boleh Ada Gas Air Mata di Stadion

PSSI: Polisi Tahu soal Tak Boleh Ada Gas Air Mata di Stadion
Tragedi Kanjuruhan (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mengungkapkan bahwa pihak kepolisian mengetahui adanya larangan penggunaan gas air mata dalam pengamanan pertandingan, termasuk pada laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10) silam.

Tindakan pihak kepolisian yang menembakkan gas air mata ke arah tribune sebagai langkah menahan suporter agar tidak turun ke lapangan menjadi polemik. Sebab, tindakan itu memicu kepanikan hingga membuat penonton berdesakan menuju pintu keluar, dan menyebabkan sesak nafas, penumpukan massa, hingga terinjak-injak.

FIFA selaku induk olahraga sepakbola dunia, telah memiliki aturan terkait pengamanan dan keamanan stadion (FIFA Stadium Saferty dan Security Regulations). Isinya adalah petugas keamanan tidak diperkenankan memakai atau menggunakan gas air mata untuk langkah pengamanan.

baca juga:

Larangan itu tertulis dalam Pasal 19B tentang petugas penjaga keamanan lapangan (Pitchside stewards), yang berbunyi, "Senjata api atau 'gas pengendali massa' tidak boleh dibawa atau digunakan".

Ketua Komite Wasit PSSI, Ahmad Riyadh mengatakan bahwa panitia pelaksana (panpel) telah melakukan sosialisasi terkait hal itu kepada pihak kepolisian. Namun, Polri memiliki prosedur operasi (SOP) tersendiri.

"Sosialisasi itu dilakukan, kami tanya ke panpel. Cuma kepolisian menganggap dia punya SOP untuk melaksanakan kegiatan adanya kerumunan dan lain-lain," kata Riyadh dalam jumpa pers di Malang pada Selasa (4/10).

"[Polisi] Tahu [tidak boleh pakai gas air mata], tapi ada SOP untuk penanganan kerumunan di stadion untuk orang banyak."

Sementara itu, Ketua Komisi Disiplin PSSI, Erwin Tobing menyatakan bahwa perihal gas air mata bukan ranah pihaknya. Menurutnya, permasalah tersebut akan menjadi urusan tim investigasi keamanan.

"Itu jadi perhatian juga. Kita memang, beberapa negara maju sudah terapkan pasal 19 statuta FIFA. Karena di beberapa negara maju, steward itu sudah sangat berperan, polisi ada di luar stadion," kata Erwin.

"Cuma di Indonesia, steward itu belum terlalu dikenal, belum disiapkan. Sehingga terpaksa polisi harus masuk, nanti ada penilaian sendiri apakah itu salah."

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur diketahui telah menjadi insiden sepakbola kedua terparah di dunia. Ratusan nyawa telah hilang dalam insiden ini.[]