News

PSI: di Negara Pancasila Tidak Ada Kewajiban Calon Presiden Bisa Baca Ayat-ayat Quran


PSI: di Negara Pancasila Tidak Ada Kewajiban Calon Presiden Bisa Baca Ayat-ayat Quran
Politikus PSI Dedek Prayudi (TWITTER/@Uki23)

AKURAT.CO, Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia Dedek Prayudi menilai ide memasukkan materi baca Al Quran bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden pada rangkaian pemilu periode 2019 - 2024 sebagai hal yang tidak relevan. Menurut dia usulan tersebut justru bisa menimbulkan sentimen kepada agama tertentu.

Dedek Prayudi menekankan ibadah merupakan ranah personal, bukan untuk dipertontonkan sebagai alat untuk meraih suara pemilih.

"PSI tetap konsisten bahwa tes membaca kitab suci agama apapun tidak relevan karena itu tidak termaktub di dalam konstitusi kita. Capres diharapkan membaca dan paham ayat-ayat konstitusi bukan ayat-ayat suci. Sedangkan agama adalah ranah personal, jauh lebih mulia dari sekadar alat meraih suara." ujar Dedek Prayudi melalui pernyataan tertulis,  Senin (31/12/2018).

baca juga:

Dedek Prayudi menilai Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memainkan politik identitas. Ia menyindir beberapa pernyataan tim mereka yang bernuansa politisasi agama, di antaranya ucapan  Amien Rais. 

"Masih segar rasanya ketika Pak Amien mengelompokkan koalisi partai politik dengan sebutan partai Allah dan partai setan. Juga beliau menganalogikan pilpres ini dengan perang agama, yakni perang badar dan perang uhud. Apalagi kalau kita bicara soal capres-cawapres pilihan ijtima ulama yang seolah mewakili pilihan agama tertentu," kata Dedek Prayudi.

"Seolah-olah barisan mereka adalah barisan Tuhan, dan lawan politik mereka adalah musuh Tuhan. Seolah-olah siapapun yang berseberangan pilihan politik dengan mereka maka akan mendapat ganjaran neraka. Tuhan jauh lebih mulia daripada sekadar juru kampanye mereka. Sekarang mereka kena batunya dan kelimpungan sendiri menghindari tantangan baca Al Quran dari ulama Aceh. Publik bertanya-tanya kenapa calon yang katanya mewakili Islam baca Quran saja takut," Dedek Prayudi menambahkan.

Influencer Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin menambahkan kalaupun calon presiden tidak mampu baca Al Quran, hal itu tidak membatalkan pencalonan.

"Di negara Pancasila ini tidak ada kewajiban calon presiden bisa baca ayat-ayat Quran. Yang penting paham ayat-ayat konstitusi, punya visi, misi dan program kongkret untuk rakyat. Ini yang tidak dimiliki Pak Prabowo," kata dia. 

Calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menyatakan siap mengikuti acara debat yang akan dimulai 17 Januari 2018, termasuk kalau Komisi Pemilihan Umum memasukkan materi membaca Al Quran.

"Kita ikut saja arahan KPU seperti apa. (Baca Al Quran) kita siap. Soal moderator kita juga ikut KPU," ujar Sandiaga Uno di Solo.

Debat pertama bertema hukum, hak asasi manusia, korupsi. dan terorisme pada 17 Januari 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta. Sandiaga Uno mengatakan sudah mengupas isu itu. Dia dan Prabowo Subianto sudah siap kalau nanti dicecar dengan menggunakan isu HAM.

"Materi akan kita kupas dari persepsi Indonesia adil dan makmur. Kalau soal HAM, Pak Prabowo saya rasa sudah 20 tahun lebih dipermasalahkan. Meski timbulnya ya dari wartawan lima tahun sekali. (Tapi) kami menanggapi dengan tulus ikhlas," kata dia.

"Kenyataanya sudah lebih dari lima presiden yang memprosesnya, namun terbukti Prabowo tidak terlibat," Sandiaga Uno menambahkan. []