Olahraga

Protes Pelanggaran HAM, Paris tak Gelar Nobar Piala Dunia Qatar

Protes Pelanggaran HAM, Paris tak Gelar Nobar Piala Dunia Qatar
Piala Dunia Qatar 2022 akan digelar pada November-Desember mendatang. (ISTOCKPHOTO)

AKURAT.CO, Beberapa kota di Prancis mengumumkan bahwa mereka tidak akan menggelar nonton bareng (nobar) dan zona penggemar (fan zone) pertandingan Piala Dunia Qatar 2022. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh Qatar dalam proyek Piala Dunia 2022.

Sebagaimana dikabarkan The Guardian, ibukota Prancis, Paris, adalah kota terakhir yang menyatakan diri untuk tak menggelar acara publik pertandingan Piala Dunia. Beberapa kota yang sudah lebih dulu menyatakan sikap adalah Marseille, Lille, Bordeaux, Reims, Nancy, dan Rodez.

“Kompetisi ini secara bertahap berubah menjadi bencana kemanusiaan dan lingkungan, tidak sejalan dengan nilai-nilai yang ingin kita lihat tersampaikan melalui olahraga dan terutama sepakbola,” kata Walikota Marseille, Benoit Payan.

baca juga:

Terutama kota Paris, kebijakan ini juga memberikan “protes” secara tidak langsung mengingat tim Ligue 1 yang bermarkas di kota tersebut, Paris Saint-Germain (PSG), dimiliki oleh salah satu petinggi Kerajaan Qatar, Tamim Bin Hamad Al-Thani, sejak 2011.

Suara kritis juga disampaikan oleh salah satu legenda sepakbola terbesar Prancis, Eric Cantona. Pesepakbola yang menjalani masa jayanya ketika membela Manchester United pada dekade 1990-an tersebut berkomitmen untuk tidak akan menyaksikan satu pun pertandingan Piala Dunia 2022.

“Saya tidak akan menonton satu pun pertandingan Piala Dunia (2022). Ini akan merugikan saya karena sejak saya masih anak-anak (Piala Dunia) adalah perhelatan yang saya suka, yang selalu saya tinggu dan yang saya tonton dengan gairah,” kata Cantona.

“Tetapi mari jujur dengan diri kita sendiri. Piala Dunia kali ini tidak masuk akal. Satu-satunya makna perhelatan ini, sebagaimana yang kita semua tahu, adalah uang.”

Sementara itu, Federasi Sepakbola Prancis (FFF), harus menerima kritik karena bungkam atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Qatar. FFF menyayangkan stigma pelanggaran hak asasi manusia dan menilai Qatar sudah melakukan perkembangan dalam isu ini.

“Ambil bagian di Piala Dunia bukan berarti menutup sebelah mata dan mendukung (pelecehan),” tulis FFF dalam pernyataan resminya. “Bahkan jika realitas di lapangan tidak sempurna, perkembangannya ada dan positif.”[]