Lifestyle

Protes, Influencer Rusia Pamer Mengunting Tas Chanel

Beberapa influencer dan sosialita Rusia mengunting tas Chanel mereka karena menuduh perusahaan asal Prancis itu memiliki sentimen anti-Rusia


Protes, Influencer Rusia Pamer Mengunting Tas Chanel
Ilustrasi tas branded, Chanel (Chanel Official)

AKURAT.CO Desainer interior dan influencer Rusia, Liza Litvin  menceritakan perlakukan kurang menyenangkan yang diterima dirinya saat membeli tas Chanel di sebuah mal di Dubai.

Tak disangka, Litvin diminta untuk menandatangani sebuah pernyataan bahwa dirinya tidak akan memakai tas Chanel di Rusia.

"Mereka meminta rincian identitas dan saya memberikan nomor telepon Rusia saya. Selanjutnya, manajer mengatakan bahwa mulai hari ini mereka menjual ke orang Rusia hanya jika mereka menandatangani perjanjian untuk tidak memakai barang-barang mereka di Rusia," kata  Litvin saat mengeluh tentang pengalamannya ditolak membeli tas Chanel di Dubai, dikutip AKURAT.CO, Jumat (15/4/2022).

baca juga:

Mengetahui perlakuan Chanel tersebut, beberapa influencer dan sosialita Rusia menuduh Chanel memiliki sentimen anti-Rusia (russofobia)

Marina Ermoshkina, seorang presenter TV Rusia mengambil video saat dia memotong tas Chanel-nya  dan mengunggahnya ke Instagram.

“Ini Russophobia. Ini adalah bentuk diskriminasi yang paling murni," ujar Ermoshkina, dikutip AKURAT.CO dari New York Times, Jumat (15/4/2022), 

Segera setelah itu, Victoria Bonya, seorang influencer media sosial Rusia mengikuti aksi Ermoshkina. Dia juga mengunggah video yang memperlihatkan dirinya mengunting tas Chanel seharga ribuan dolar.

"Jika rumah Chanel tidak menghormati klien, mengapa kita harus menghormati rumah Chanel?" katanya.

Selain Ermoshkina dan Bonya, DJ Katya Guseva, yang memiliki 587.000 pengikut Instagram, mengatakan bahwa dia juga telah memotong tas Chanel miliknya. 

"Saya selalu bermimpi bahwa tas Chanel akan muncul di lemari saya, dan itu terjadi tahun lalu," tulis Guseva dalam keterangannya.

"Tetapi setelah saya mengetahui tentang kebijakan merek tersebut terhadap orang Rusia, saya memutuskan untuk menghapus tas-tas ini dari kehidupan sehari-hari saya sampai situasinya berubah," ujarnya. 

Seperti diketahui, Chanel, seperti banyak perusahaan internasional lainnya, memutuskan untuk menutup operasinya di Rusia. Selain menutup sementara toko dan menangguhkan pengiriman di Rusia. Bukan hanya itu saja, Chanel juga meminta orang Rusia yang sedang berbelanja di luar negeri untuk menandatangani janji yang mengatakan bahwa mereka tidak akan memakai atau memajang merek tersebut di Rusia, mengutip Dailymail UK. 

Dalam sebuah pernyataan, perusahaan asal Prancis itu menyatakan bahwa pihaknya berusaha untuk mematuhi sanksi Uni Eropa dan Swiss yang melarang penjualan, pasokan, transfer atau ekspor, secara langsung atau tidak langsung, barang-barang mewah kepada perorangan atau perusahaan di Rusia. 

Larangan itu berlaku untuk barang-barang mewah yang nilainya melebihi 300 euro per item, yang berlaku untuk sebagian besar produk Chanel.

"Inilah sebabnya kami meluncurkan proses untuk meminta klien yang tidak kami ketahui domisili utamanya untuk mengonfirmasi bahwa barang yang mereka beli tidak akan digunakan di Rusia," kata Chanel. 

"Saat ini kami sedang berupaya meningkatkan pendekatan ini dan kami mohon maaf atas kesalahpahaman yang mungkin terjadi," imbuhnya. 

Chanel menolak untuk mengomentari reaksi para selebritas Rusia, tetapi dalam pernyataan itu, ia meminta maaf atas kesalahpahaman yang mungkin terjadi.

"Menyambut semua klien kami, dari mana pun mereka berasal, adalah prioritas bagi Chanel," pungkasnya.[]