News

Protes Atas Kematian Mahsa Amini Belum Mereda, Presiden Iran Ancam Tindak Tegas Demonstran

Protes Atas Kematian Mahsa Amini Belum Mereda, Presiden Iran Ancam Tindak Tegas Demonstran
Demonstrasi untuk memprotes kematian Mahsa Amini telah menyebar ke sebagian besar dari 31 provinsi di Iran, sementara bentrokan terus berlanjut di beberapa kota. (BBC)

AKURAT.CO Presiden Iran Ebrahim Raisi mengancam akan menindak tegas demonstran setelah negara itu dilanda unjuk rasa antipemerintah lebih dari sepekan.

Dilansir dari BBC, sekitar 35 orang tewas sejak aksi protes massa meletus atas kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi. Demonstrasi ini pun telah menyebar ke sebagian besar dari 31 provinsi di Iran, sementara bentrokan terus berlanjut di beberapa kota.

Amini telah ditahan karena diduga melanggar aturan jilbab. Petugas dilaporkan memukuli kepalanya dengan tongkat dan membenturkan kepalanya ke salah satu kendaraan mereka. Namun, polisi berdalih tak ada bukti penganiayaan dan Amini mengalami serangan jantung mendadak.

baca juga:

Meski Raisi berjanji akan menyelidiki kematiannya, Menteri dalam Negeri Ahmad Vahidi bersikeras bahwa Amini tak dipukuli.

"Laporan dari badan pengawas diterima, saksi diwawancarai, video diperiksa, dan ada pendapat forensik, serta ditemukan tak ada pemukulan," terangnya.

Sementara itu, video yang beredar di media sosial telah merekam kerusuhan di puluhan kota di seluruh negeri selama beberapa hari terakhir. Beberapa menunjukkan pasukan keamanan menembakkan sesuatu yang tampak seperti peluru tajam ke demonstran di kota barat laut Piranshahr, Mahabad, dan Urmia.

Lebih banyak bentrokan dilaporkan di beberapa kota, termasuk ibu kota Teheran, pada Sabtu (24/9). Para demonstran pun dilaporkan menyebar demi menghindari berkumpul di satu tempat.

Foto-foto baru pun tersebar di media sosial yang menunjukkan para demonstran melemparkan bom molotov ke pasukan keamanan. Sementara itu, kelompok reformis Partai Rakyat Islam Iran telah menyerukan agar aturan berpakaian wajib dicabut dan demonstrasi damai diizinkan.

Amnesty International pun memperingatkan bukti yang dikumpulkan menunjukkan pola mengerikan pasukan keamanan Iran yang sengaja dan secara ilegal menembakkan peluru tajam ke para demonstran. Ditambahkan pula bahwa pasukan pemerintah menembak mati 19 orang, termasuk 3 anak-anak, pada Rabu (21/9) malam.

Di sisi lain, Raisi menganggap aksi protes massa sebagai kerusuhan.

"Iran harus menangani dengan tegas mereka yang menentang keamanan dan kedamaian negara," desaknya.

Ratusan orang pun telah ditahan oleh pasukan keamanan. Menurut pengumuman kepala polisi Provinsi Guilan pada Sabtu (24/9), sekitar 739 orang, termasuk 60 wanita, telah ditahan di wilayahnya.

BBC telah mendengar kesaksian dari beberapa orang yang ditangkap yang mengaku bahwa mereka dipukuli. Salah satunya mengatakan ia dipukuli 'dengan kejam' sebelum dibui di sel kecil bersama ratusan orang lainnya. Di sana, mereka tak diberi makanan, air, bahkan akses ke kamar mandi.

Pasukan  pemerintah juga melancarkan tindakan keras terhadap media dan aktivis independen. Menurut Komite Perlindungan Jurnalis, pengawas media yang berbasis di Amerika Serikat, 11 jurnalis telah ditahan sejak Senin (19/9).

Di kota perbatasan barat Oshnavieh, seorang sumber mengatakan bahwa para demonstran dengan cepat merebut kendali beberapa bagian kota dari pasukan pemerintah. Menurut warga setempat, para demonstran merebut kekuasaan semalam, sementara pasukan keamanan dan pejabat pemerintah melarikan diri. Mereka kemudian mendapatkan kembali kendali kota pada Sabtu (24/9).

Video yang diunggah dari kota tersbeut menunjukkan massa berbaris melewati jalan-jalan kota tanpa kehadiran polisi, sementara ledakan keras terdengar. Media pemerintah membantah laporan itu, tetapi mengatakan para demonstran telah menyerbu 3 pos terdepan Organisasi Basji, sebuah paramiliter yang terkait dengan Garda Revolusi pemerintah.

Sementara itu, AS berjanji akan melonggarkan pembatasan internet di Iran untuk melawan tindakan keras Teheran terhadap aksi protes. Menteri Luar Negeri Antony Blinken akan membantu memastikan rakyat Iran tak terus terisolasi dalam 'kegelapan'.[]