Ekonomi

Proposal Perdamaian Masih Bergulir, Garuda Indonesia Dinilai Korbankan Investor Ritel

Permohonan perpanjangan PKPU ini diajukan kepada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 11 Mei 2022 yang lalu


Proposal Perdamaian Masih Bergulir, Garuda Indonesia Dinilai Korbankan Investor Ritel
Petugas Garuda Indonesia Maintenance Facilities (GMF AeroAsia) melakukan pemeriksaan pesawat Garuda Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Senin (30/7/2018). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. kembali mengajukan perpanjangan masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) selama 30 hari, terhitung mulai 20 Mei mendatang. Permohonan perpanjangan PKPU ini diajukan kepada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 11 Mei 2022 yang lalu.

Perpanjangan PKPU ini ditujukan untuk memberikan kesempatan yang lebih optimal bagi Garuda Indonesia dan segenap kreditur, termasuk lessor dalam mencapai kesepakatan bersama. Dalam negosiasinya, Garuda Indonesia berusaha menyelesaikan penawaran skema restrukturisasi kepada lessor, pinjaman perbankan, sukuk dan KIK EBA.

Akan tetapi, berdasarkan informasi pasalnya Garuda Indonesia telah menyampaikan skema penyelesaian yang mayoritas akan diselesaikan dengan tenor 22 tahun.

baca juga:

Head of Investment PT Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe mengungkapkan bahwa permasalahan semua kewajiban termasuk KIK PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, telah mengorbankan banyak pihak. Tidak hanya pemegang saham dominan dan kreditur saja, tapi investor ritel hingga karyawan. Asal tahu saja, utang Garuda Indonesia per September 2021 mencapai US$9,75 miliar. Sedangkan pinjaman kepada bank US$967 juta dan utang lainnya dalam bentuk obligasi wajb konversi, sukuk, dan KIK EBA mencapai US$630 juta.

Pada pertemuan terakhir antara investor ritel yang difasilitasi Mandiri Manajemen Investasi, sebagai pengelola produk investasi KIK EBA, Garuda Indonesia menawarkan skema penyelesaian selama 22 tahun dengan dikonversi menjadi pinjaman jangka panjang kepada investor pemegang kontrak KIK EBA.

“Restrukturisasi skema penyelesaian atas pembayaran pokok KIK EBA yang diajukan selama 22 tahun jelas mengorbankan investor ritel, tidak hanya pemegang saham dan karyawan. Investor Pemegang kontrak KIK EBA harus menunggu penyelesaian yang membutuhkan waktu lama. Apalagi kesepakatan dengan para lessornya masih berjalan,” ujarnya lewat keterangannya.

Kiswoyo menambahkan, penyelesaian proses pemenuhan kewaijban Garuda Indonesia tidak bisa diharapkan dapat berjalan dengan cepat, dan ini akan menjadi pil pahit semua investor yang masuk investasi ke banyak lini di Garuda Indonesia.

“Ini merupakan dosa manajemen lama yang berdampak sampai saat ini,” tambahnya.[]