Tech

Program PPnBM Tingkatkan Nilai Penjualan Mobil Sebesar Rp22,95 Triliun

Program PPnBM mampu meningkatkan volume penjualan mobil


Program PPnBM Tingkatkan Nilai Penjualan Mobil Sebesar Rp22,95 Triliun

AKURAT.CO, Program Relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah kendaraan bermotor (PPnBM DTP) yang diluncurkan oleh Pemerintah sejak Maret 2021 mampu meningkatkan volume penjualan mobil.

Hal itu diketahui lewat hasil kajian evaluasi dampak oleh Institute for Strategic Initiatives (ISI) yang disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) secara virtual beberapa hari lalu.

Bahkan, penjualan mobil hampir sama dengan kondisi normal (sebelum pandemi). Kajian dampak ini menggunakan analisis I-O (Input-Output)ata data penjualan mobil yang masuk dalam skema relaksasi. Analisis I-O ini didasarkan pada tabel I-O yang dirilis oleh BPS pada bulan Mei 2021. 

"Program relaksasi mampu mendorong masyarakat untuk membeli mobil lebih banyak karena harga lebih murah berkat potongan PPnBM DTP," sebut Luky Djani selaku Direktur ISI.

Program PPnBM DTP menurutnya meningkatkan nilai penjualan mobil sebesar Rp22,95 Triliun. Angka ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp10,62 Triliun.

Insentif PPnBM bagi sektor otomotif juga memberikan dampak peningkatan permintaan input di sektor industri sebesar Rp29 Triliun, dengan porsi terbesar terjadi di Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer mencapai Rp26 Triliun, Industri Karet, Barang Dari Karet Dan Plastik sebesar Rp736 Miliar, dan Industri Peralatan Listrik sebesar Rp609 Miliar.

Adapun efek penciptaan output pada sektor industri otomotif sebesar Rp26 Triliun, Industri Karet, Barang Dari Karet Dan Plastik sebesar Rp258 Miliar, dan Industri Peralatan Listrik sebesar Rp183 Miliar. 

"Program Relaksasi PPnBM DTP Kendaraan Bermotor berhasil meningkatkan penjualan mobil yang masuk dalam skema program tersebut. Hal ini disebabkan karena masih tinggi nya daya beli masyarakat dan peningkatan ulitisasi industry otomotif dan sektor terkait lainnya," pungkas Luky.

Sebagai informasi, program relaksasi PPnBM DTP kendaraan bermotor memang berawal dari masalah penurunan penjualan mobil di dalam negeri. Sejak pandemi melanda Indonesia pada Maret 2020, penjualan mobil yang masuk dalam skema PPnBM DTP telah mulai mengalami penurunan penjualan. 

Titik terendah penjualan terjadi pada bulan Mei 2020 mencapai 6.907 unit. Volume jauh lebih kecil pada saat kondisi normal rata-rata 40 ribu unit.

Melihat kondisi ini, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita pada bulan Oktober 2020 mengajukan agar ada insentif bagi industry otomitif agar bisa meningkatkan Kembali utlilisasi produksinya. Sayangnya, usulan ini belum disetujui oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Namun, pada awal Januari 2021 pemerintah kembali melirik usulan ini untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional yang mengalami pertumbuhan negatif. Atas arahan Presiden, Joko Widodo, akhirnya pemerintah memutuskan memberlakukan relaksasi PPnBM DTP untuk sektor otomotif. 

Tidak semua produk otomotif dapat masuk dalam skema ini. Salah satu kriteria yang bisa ikut program ini adalah produk otomotif yang memiliki local purchasing (pembelian lokal) dibawah 70 persen untuk kendaraan untuk kendaraan dibawah 1.500 cc.