Rahmah

Prof Nasaruddin Umar: Khusyuk itu Ada Kemistri dengan Allah SWT

Khusyuk sebetulnya ada rasa di dalam diri kita, ada kemistri dengan Allah SWT, ada ketundukan dan ada kepasrahan dan ada kesadaran puncak.


Prof Nasaruddin Umar: Khusyuk itu Ada Kemistri dengan Allah SWT
Nasaruddin Umar dalam Bincang Hikmah (AKURAT.CO/Lufaefi)

AKURAT.CO Khusyuk adalah cara bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah seperti salat. Dengan kata lain, khusyuk adalah tunduk dan merendahkan diri ketika berada di hadapan Allah SWT.

Cendekiawan Muslim yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar, mengatakan seringkali kita memvonis diri kita tidak khusyuk, atau sebaliknya, kita menganggap jika diri kita yang paling khusyuk.

Menurut beliau, apa yang dimaksud khusyuk, belum tentu sama dengan apa yang kita definisikan bahwa khusuk adalah sangat fokus kepada Allah SWT seolah-olah melihat Allah. Khusyuk sebetulnya ada rasa di dalam diri kita, ada kemistri dengan Allah SWT, ada ketundukan dan ada kepasrahan dan ada kesadaran puncak.

Karena jika khusyuk yang dimaksudkan sebagai bentuk fokus kita kepada Allah SWT dalam salat, maka salat itu tidak manusiawi. Jika salat harus fokus sepenuhnya dari takbiratul ihram sampai salam harus khusyuk mengingat Allah SWT. 

Prof Nasaruddin memberi contoh pada saat Rasulullah SAW memimpin salat dengan tidak seperti biasanya, beliau memimpin salat sangat cepat seperti orang terkejar-kejar. Para sahabat gelisah, ini kok nabi tidak seperti biasanya.

Setelah selesai salat, akhirnya para sahabat bertanya kepada Baginda Rasulullah SAW, "Ya Rasulallah, kok salat kita kali ini begitu cepat, tidak seperti biasanya,".

Rasulullah SAW menjawab, "Apakah kalian tidak mendengarkan di belakang kita ada anak kecil yang sedang menangis, barangkali ibunya sedang salat, jadi makin lama kita salat, kasian anak itu terlalu lama menangis," jawab Rasulullah SAW.

Sebaliknya, ada sebuah kisah dimana Rasullullah SAW memimpin salat dengan sujud yang lama sekali. Sampai-sampai para sahabat menyangka jika Rasullullah SAW sedang sakit. 

Setelah selesai salat, sahabat bertanya "Ya Rasulallah, kenapa tadi salah satu sujud kita itu lama sekali tidak seperti biasanya?,".

Rasulullah menjawab, "Oiya maaf, cucu saya Hasan dan Husain keluar dari kamarnya, naik kuda-kudaan di atas punggungku ketika aku sujud. Jika saya bangkit, saya tak mereka jatuh,".

Dengan demikian dua kasus ini, menggambarkan bahwa Rasulullah SAW ketika salat memikirkan hal lain selain Allah SWT. Rasulullah SAW memikirkan nasibnya anak kecil yang menangis pada saat ibunya sedang salat. Rasulullah memikirkan kedua cucunya yang ketika Rasulullah SAW bangkit dari sujud, khawatir para cucunya itu terjatuh.

Jadi yang dimaksudkan khusyuk itu, Rasulullah SAW mengingat Allah SWT, tetapi pikiran sekunder dibagi dengan cara memperhatikan sekitar.[]