Rahmah

Prof Nasaruddin Umar: Kesantunan Berbahasa Menjadi Tolak Ukur Akhlak Mulia

Agama Islam melalui Al-Qur'an memperkenalkan tata krama berbahasa yang sangat santun.


Prof Nasaruddin Umar: Kesantunan Berbahasa Menjadi Tolak Ukur Akhlak Mulia
Prof Dr KH Nasaruddin Umar (Aktual)

AKURAT.CO  Agama Islam melalui Al-Qur'an memperkenalkan tata krama berbahasa yang sangat santun. Sekalipun cara berkomunikasi kita sekarang sudah berubah dalam bentuk media seperti WhatsApp, Facebook, Instagram dan lainnya, tetapi perlu adanya kesantunan yang harus ditampilkan dalam cara berkomunikasi.

Cendekiawan Muslim Prof KH Nasaruddin Umar menyebut komunikasi dari atas ke bawah  disebut dengan instruksi atau perintah. Ketika tuntunan komunikasi dari bawah ke atas dinamakan dengan doa. Sedangkan komunikasi atau tuntunan yang bermula dari samping, misalnya teman sekelas, saudara, itu bernama I'timaz.

"Jadi dalam bertutur kata, kita tahu level kita di mana. Jangan sampai kita seharusnya menggunakan bahasa santun doa, tetapi kita seperti memerintah," tutur Rektor PTIQ Jakarta itu.

Menurut Prof Nasar, di dalam Al-Qur'an ada tujuh konsep komunikasi yang diperkenalkan yang salah satunya adalah Kaulan Karima. Artinya seorang anak yang ingin berkomunikasi dengan kedua orang tuanya, hendaknya menggunakan bahasa yang mulia.

"Terutama kalau orang tuanya sudah semakin tua, karena semakin tua usia orang tua, semakin mudah untuk tersinggung," kata Guru Besar UIN Jakarta tersebut.

Prof Nasar kemudian mengutip Al-Qur'an Surah Al Isra'ayat 23 yang berbunyi:

 وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik,".

"Jadi jangan sembarang memberikan satu stetmen seperti 'aduh' itu bisa sangat tersinggung dan gunakanlah bahasa yang sangat mulia dan santun," ucap Prof Nasar.

Sebaliknya, jika kita berkomunikasi dengan seorang anak, lanjut Prof Nasar,  jangan menggunakan bahasa yang terlalu tinggi karena seorang anak belum dapat memahami bahasa-bahasa kinayah. Kita harus menggunakan bahasa yang terus terang.

Selain itu, ketika kita menghadapi seseorang yang sudah diingatkan berkali-kali namun tetap saja tidak mau berubah, menurut Prof Nasar harus ada komunikasi dengan bahasa yang sedikit kencang.

"Jadi kita ada permainan dan seni dalam bertutur. Kapan kita berbicara dengan santun. Kapan kita berbicara dengan tegas dan kapan kita berbicara dengan keras," sebut Prof Nasar.

Dengan demikian, Prof Nasar mengajak masyarakat  untuk menggunakan bahasa yang santun di dalam komunikasi, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk kata-kata. Karena akhlak seseorang dapat diukur melalui kesantunannya di dalam berbahasa.