Rahmah

Prof Nasaruddin Umar Beri Tips Berdagang Efektif Ala Rasulullah, Sangat Bermanfaat!

Istilah ekonomi dalam agama Islam tidak bisa dipisahkan karena Nabi sendiri merupakan seorang saudagar dan seorang pebisnis.


Prof Nasaruddin Umar Beri Tips Berdagang Efektif Ala Rasulullah, Sangat Bermanfaat!
Prof Dr KH Nasaruddin Umar (SatuHarapan)

AKURAT.CO  Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan konsep baku tentang sistem perekonomian sudah diberikan sebagai ikhtiar yang menjadi pilihan umat. Agama Islam hanya berkepentingan untuk menetapkan sistem etika masyarakat dalam berekonomi dan juga berpolitik.

"Sepanjang etika perekonomian itu diindahkan. Mau disebut sistem apa saja yang penting jangan ada ekploitasi di dalam kehidupan perekonomian," kata Prof Nasar

Rektor PTIQ Jakarta itu menyebut istilah perekonomian di dalam Islam tidak bisa dipisahkan karena Nabi sendiri merupakan seorang saudagar, seorang pebisnis yang orientasinya untuk mendapatkan income. Nabi Muhammad SAW sedari kecil sampai akhir hayat tidak pernah berhenti untuk memikirkan persoalan ekonomi umat.

"Yang perlu kita garisbawahi bagaimana etika Islam di dalam sistem ekonomi. Karena di dalam Al-Qur'an sangat anti terhadap apa yang namanya riba,"

Allah SWT berfirman:  

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا 

Artinya: "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (Al Baqarah: 275).

Sedangkan yang dimaksud dengan unsur eksploitasi di dalam dunia perekonomian, menurut Prof Nasar, artinya manusia tidak boleh menghisap keringat dan darahnya orang lain. Misalnya, ada seseorang yang sangat mandi keringat, tetapi pendapatannya sedikit. Begitu juga orang yang hanya bersantai saja, akan tetapi mendapat pendapatan yang luar biasa. Dalam hal ini, mengeksploitasi orang lain untuk mendapatkan kekayaan luar biasa itu merupakan sebuah masalah.

Prof Nasar mengingatkan kepada umat untuk lebih hati-hati dalam melakukan aktivitas jual beli. Misalnya seseorang melakukan jual beli, mengambil barang di tanah Abang. Harga satu kodi baju misalnya 500 ribu. Tetapi begitu kita jual ke Papua kita mendapat untung sampai 500 persen. Padahal ongkosnya hanya 10 persen saja.

"Hanya memanfaatkan ketidakmampuan orang Papua pergi ke Jakarta membeli baju itu maka kita menjualnya dengan mahal. Kita tidak bisa mengatakan bahwa 'terserah aku, aku kan pedagang, mau menjualnya dengan harga berapa saja'," tutur Guru Besar UIN Jakarta itu.

Prof Nasar kemudian mengajak masyarakat untuk meniru cara Rasulullah SAW berdagang. Ketika Rasulullah SAW berdagang di Syam, (sekarang Syria) beliau terkenal menjual barang dagangan dengan harga yang murah. Karena prinsip Rasulullah SAW lebih baik tidak banyak untung yang didapat tetapi yang penting sirkulasinya cepat.

"Jadi untung sedikit, tetapi sirkulasinya cepat, ternyata secara akumulasi keuntungannya lebih banyak," ujar Prof Nasar.

"Jadi Rasulullah SAW selain menghindari riba, tetapi beliau juga mengajarkan apa yang disebut dengan keuntungan efisien ekonomi efektik," pungkas ulama kelahiran Bone Sulawesi Selatan itu. []