News

Presiden ACT: Ahyudin 'Dipaksa' Mengundurkan Diri Karena Gaya Kepemimpinannya Otoriter! 

pihaknya merasa khawatir hal tersebut akan berdampak terhadap lembaga.


Presiden ACT: Ahyudin 'Dipaksa' Mengundurkan Diri Karena Gaya Kepemimpinannya Otoriter! 
Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar (kanan) didampingi anggota dewan pembina yayasan ACT Bobby Herwibowo (kiri) memberikan keterangan pers di Jakarta, Senin (4/7/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar membantah adanya isu kudeta terhadap pemimpin lembaga kemanusiaan sebelumnya, Ahyudin.

Ibnu mengatakan jika Ahyudin mengundurkan diri secara baik-baik dan berdasarkan kemauannya sendiri, setelah dinasehati para pengurus.

"Sehingga pada waktu itu kita bersyukur sebenarnya, dengan mudah, dengan lapang dada, pemimpin sebelumnya, Pak Ahyudin, menandatangani surat pengunduran dirinya," kata dia.

baca juga:

Ia pun membongkar alasan pihaknya memberhentikan Aliyudin dari jabatannya sebagai presiden. 

Menurutnya, gaya kepemimpinan Ahyudin itu bersifat one man show dan otoriter. Oleh karena itu, kata Ibnu, pihaknya merasa khawatir hal tersebut akan berdampak terhadap lembaga.

"Gaya kepemimpinan beliau yang one men show yang cenderung otoriter sehingga organisasi tidak nyaman, dinasihati dan dia mengundurkan diri," kata Ibnu saat konferensi pers di kantor ACT, Jakarta Selatan, Senin (4/7/2022).

"Semuanya kesadaran, kami lihat ada kebijakan yang mulai kekhawatiran bagi lembaga," sambung Ibnu. 

Sebelumnya, tersiar kabar dugaan penyelewengan dana oleh ACT. Dalam laporan yang diterbitkan majalah nasional, menyebutkan jika pendiri ACT, Ahyudin mendapat gaji sampai dengan Rp250 juta per bulan. Selain itu, pendiri ACT tersebut juga mendapat fasilitas operasional berupa 1 unit Toyota Alphard, Mitsubishi Pajero, dan Honda C-RV.

Jabatan di bawahnya juga mendapat gaji yang fasilitas yang tak kalah mewah. Para petinggi ACT juga disebut-sebut mendulang cuan dari anak perusahaan ACT. Uang miliaran rupiah diduga mengalir ke keluarga Ahyudin untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian rumah dan lainnya.

Dugaan penyelewengan dana juga dilaporkan terjadi di luar Jakarta. Misalnya, dugaan penggelapan lumbung ternak wakaf di Blora, Jawa Tengah. Sehingga pendiri ACT Ahyudin mengundurkan diri usai diminta oleh para pimpinan. []