News

PPP Sangat Terbuka Usung Capres Bukan Kader Kabah, Siapa Masuk Radar?

Partai politik harus jujur bahwa banyak tokoh di luar partai politik yang layak didorong untuk menjadi presiden


PPP Sangat Terbuka Usung Capres Bukan Kader Kabah, Siapa Masuk Radar?
Wakil Ketua MPR RI, Arsul Sani saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (5/3/2020). (AKURAT.CO/Oktaviani)

AKURAT.CO- Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyatakan kemungkinan mengusung calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang bukan kadernya sendiri pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Partai berlogo Kabah menegaskan sangat terbuka dengan figur dari luar partai. 

"PPP sangat terbuka dengan capres dan cawapres dari luar, terutama yang tidak punya afiliasi politik," kata Wakil Ketua Umum PPP Arsul Sani saat ditemui di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/12/2021).

Arsul mengatakan banyak tokoh di luar partai politik yang perlu diberikan kesempatan dan didorong menjadi presiden di masa mendatang.

baca juga:

"Kalau PPP sikapnya adalah kita harus melihat juga potensi-potensi yang ada di luar kalangan partai politik. Yang ada di luar kalangan parpol itu kan banyak dalam arti bukan tokoh kalangan partai tertentu saat ini," katanya. 

Arsul yang juga Wakil Ketua MPR RI tak memungkiri muncul tuduhan miring bahwa PPP tidak memiliki stok calon pemimpin nasional. Namun Arsul menegaskan bahwa partainya harus jujur bahwa banyak tokoh di luar partai politik yang layak didorong untuk menjadi presiden di masa mendatang.

"Ini yang sering (membuat) kita dikritik. 'Masa parpol kok gak menampilkan kadernya atau tokohnya sendiri untuk capres dan cawapres'. Lah, kalau semua parpol hanya membuka pintu untuk kadernya sendiri, kan orang yang non-parpol berarti tertutup pintunya untuk menjadi capres-cawapres," tambahnya.

Arsul juga tak menampik tokoh yang masuk radar capres PPP di antaranya anggota Kabinet Indonesia Maju dan kepala daerah. Mereka seperti Menteri BUMN Erick Thohir, Mendagri Tito Karnavian, Menko Polhukam Mahfud MD, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. 

"Itu saya kira sosok-sosok yang harus kita lihat juga ya. Bahkan karena PPP tidak mendorong-dorong dari internal, meskipun tidak menutup, kita justru melihat sosok-sosok yang itu tadi, punya pengalaman pemerintahan, baik pada level nasional maupun sebagai kepala daerah untuk juga kita pertimbangkan kita suarakan," ungkapnya.

Arsul menambahkan bahwa PPP mendorong supaya Pilpres 2024 diikuti lebih dari dua pasangan calon. Hal tersebut, kata Arsul, untuk mencegah supaya keterbelahan yang timbul tidak separah Pilpres 2014 dan 2019 karena Pilpres hanya diikuti dua pasang calon.

"Yang jelas PPP berharap agar pilpres yang akan datang diikuti oleh lebih dari dua pasangan. kita rasanya sudah cukup belajar dari Pilpres 2014 dan 2019 yang menurut saya social costnya itu sangat tinggi untuk negeri ini akibat keterbelahan yang timbul," katanya. 

Ia juga mengatakan bahwa PPP akan berkomunikasi dengan partai-partai lain untuk memastikan supaya pemilu diikuti lebih dari dua pasangan capres dan cawapres. 

"Tentu kita berkomunikasi dengan sejumlah partai lain. Bukan membentuk poros baru karena sekarang ini kan belum ada poros, tetapi menuju itu," ujar Arsul.[]