News

Potret Pasca Perang, Taliban dan Tentara Afganistan yang Kehilangan Kaki Dirawat Dalam Satu Klinik 

Begini potret pasca perang di Afganistan..


Potret Pasca Perang, Taliban dan Tentara Afganistan yang Kehilangan Kaki Dirawat Dalam Satu Klinik 
Pejuang Taliban Abdul Qayum berjalan di sebelah mantan anggota Tentara Afghanistan, Khair Mohammad yang kehilangan kedua kakinya dalam ledakan ranjau, di pusat rehabilitasi di Kabul, Afganistan 14 Oktober, 2021. (REUTERS/Jorge Silva )

AKURAT.CO, Sebagai eks-prajurit Taliban, Mohammad Ishaq menghabiskan bertahun-tahun masa hidupnya untuk memerangi pasukan Barat dan pasukan lokal di Afganistan. Dalam pertempuran itu, Ishaq harus kehilangan kaki kirinya karena luka tembak, dan sekarang ia berakhir di Rumah Sakit Palang Merah di Kabul. 

Di klinik itu, Ishaq berjalan tertatih-tatih. Ia baru belajar menyesuaikan diri dengan kaki protestik. Pria berjanggut tebal itu lalu sibuk berbicara tentang kenangannya saat berperang selama delapan tahun di Helmand. Helmand adalah provinsi tempat di mana sejumlah pertempuran paling sengit meletus, menyebabkan ribuan warga sipil dan kombatan terbunuh atau cacat.

"Selama bertahun-tahun kami berperang melawan orang-orang kafir dan kami mengalahkan mereka dan saya terluka," ujar Ishaq yang saat diwawancara mengenakan sorban tradisional hitam yang kerap dipakai banyak pejuang Taliban selama pemberontakan 20 tahun mereka.

Menariknya, saat mengoceh soal perang itu, Ishaq tengah bersama dengan sejumlah mantan pasukan pemerintah Afganistan yang ia perangi. Ia bahkan sempat berdiri tepat di samping salah satu tentara Afganistan yang ia kalahkan. 

Namun, tentu saja tidak ada pemandangan baku tembak di sana. Ishaq hanya menunggu seorang instruktur memasang kaki palsu barunya. Ia lalu melangkah melintasi aula latihan berjalan, di mana sejumlah staf medis dan pasien dari kedua sisi konflik sudah menunggunya.

Potret Pasca Perang, Taliban dan Tentara Afganistan yang Kehilangan Kaki Dirawat Dalam Satu Klinik  - Foto 1
REUTERS/Jorge Silva

Afganistan memulai babak  baru setelah penaklukan pada bulan Agustus, di mana ketika itu, Taliban dengan serangan kilatnya maju ke Kabul dan merebut ibu kota. Pada saat yang sama, pasukan asing terakhir ditarik dan perlawanan dari pasukan lokal Afganistan yang sudah mengikis dengan cepat memudar.

Namun, di tengah pemerintahan yang baru, Afganistan makin jatuh dalam lembah krisis ekonomi. Kelaparan makin sering ditemui. Sementara layanan kesehatannya makin berantakan. Di tengah situasi itu, Rumah Sakit Palang Merah,yang memiliki pengalaman puluhan tahun merawat korban perang, menjadi salah satu dari sedikit pusat medis yang bisa menyediakan kaki palsu. 

Ishaq membenarkan itu, dan mengaku bahwa klinik itu benar-benar telah membantu pihak mana pun. 

"Mereka membantu semua orang yang membutuhkan; apa pun yang dibutuhkan orang, mereka berikan," kata Ishaq berbicara soal Rumah Sakit Palang Merah di Kabul.