Lifestyle

Polusi Udara Jakarta Mempengaruhi Kesehatan Anak

Udara Jakarta sudah memasuki polusi udara, paparan polusi udara memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan anak.


Polusi Udara Jakarta Mempengaruhi Kesehatan Anak
Gedung-gedung tinggi yang tertutup polusi di kawasan Jakarta, Senin (30/8/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Kualitas udara DKI Jakarta beberapa hari belakang terus memburuk, berada pada posisi teratas dalam kategori tidak sehat atau mengalami polusi udara .

Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu menjelaskan pada Selasa kemarin (21/6/2022) pagi, pukul 06.33 WIB, Jakarta masih berada di urutan tinggi dengan udara paling berpolusi dengan 154 US AQI. Menurutnya, polusi udara dari PM2.5 meningkat saat dini hari hingga pagi hari.

“Partikel polusi udara dari PM2.5 terjadi peningkatan ketika dini hari hingga pagi hari, hal ini terjadi karena tingginya kelembaban udara sehingga menyebabkan peningkatan proses adsorpsi atau perubahan wujud dari gas menjadi partikel atau dikenal dengan istilah secondary air pollutants," ujar Bondan dalam media briefing virtual, dikutip pada Kamis (23/6/2022).

baca juga:

Oleh karena itu, dirinya menambahkan, pemerintah perlu melakukan langkah nyata untuk mengendalikan sumber pencemaran udara. 

"Salah satu penyebabnya (polusi udara) memang cuaca, tetapi penyebab utama lainnya adalah masih adanya sumber pencemar udara (bergerak dan tidak bergerak) yang terbukti belum bisa dikendalikan serius melalui kebijakan yang seharusnya diambil oleh pemerintah," tuturnya.

Seperti diketahui, polusi udara adalah pencemaran pada udara dengan hadirnya berbagai bahan pencemar di luar ambang batas.

Sebuah jurnal yang ditebitkan LAPAN menyebutkan, beberapa bahan pencemar tersebut memiliki unsur kimia CO, NO, SO, SPM (suspended particulate matter, O dan berbagai logam berat seperti timbal.). Secara global, penyumbang pencemaran udara berasal dari sektor transportasi.

Dikutip dari laman WHO, paparan polusi udara memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan anak. Dampak buruk polusi udara bisa menghantui anak-anak sejak mereka masih dalam kandungan.

Menurut Dokter Spesialis Anak dari AIIMS Patna yang dikutip dari laman The Sun, Dr Chandra Mohan Kumar, paparan polusi udara pada janin dalam kandungan dapat memicu terjadinya kelahiran prematur.

Pada bayi dan anak kecil, paparan polusi udara juga tampak berkaitan dengan masalah perkembangan kognitif.

Menurut Kumar, polusi udara juga merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada anak berusia di bawah lima tahun. Ironisnya, lebih dari 90 persen anak berusia di bawah 15 tahun menghirup udara yang sudah tercemar polusi. Bahkan pada negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, anak yang terpapar polusi udara bisa mencapai 98 persen.

Dr Kumar mengatakan, penyebab anak menjadi lebih rentan terhadap paparan polusi udara karena mereka bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa. 

Selain itu, tinggi badan anak bisa membuat mereka lebih dekat pada daratan, di mana polutan biasanya mencapai tingkat konsentrasi tertinggi.

Sementara itu, menurut Dokter Spesialis Anak dari Lady Hardinge Medical College, Dr Rakesh Bagdi mengatakan bahwa polusi udara turut membuat anak lebih rentan mengalami gejala pneumonia dan polusi udara juga mengganggu perkembangan paru-paru anak.

"Paparan polusi udara di usia dini bisa menghambat pertumbuhan paru-paru," ujar Bagdi, dikutip juga dari The Sun.

Bagdi juga mengatakan, paparan polusi udara di usia dini bisa menghambat perkembangan otak. Paparan tersebut juga bisa meningkatkan beberapa risiko masalah kesehatan.

"Seperti asma dan meningkatkan risiko pneumonia," lanjut Bagdi.

Untuk menghindari dampak buruk polusi udara, Konsultan Kesehatan Senior Dr Rajeev Ranjanm menganjurkan agar anak sebaiknya berada di dalam rumah sebisa mungkin. 

Penting juga untuk selalu memberikan asupan minum seperti air putih atau minuman lain secara berkala dan teratur.

Olahraga di dalam ruangan dan penggunaan masker merupakan beberapa upaya pencegahan agar anak terhindar dari polusi udara" jawab Ranjan.