News

Polres Sleman Gagalkan Peredaran Sabu 10 Kg Senilai Rp15 Miliar, Terbesar 1 Dasawarsa Terakhir

Polres Sleman Gagalkan Peredaran Sabu 10 Kg Senilai Rp15 Miliar, Terbesar 1 Dasawarsa Terakhir
Polres Sleman menyita 10 kg sabu senilai Rp15 miliar dari 2 kurir pengedar sabu jaringan internasional, Kamis (28/7/2022). (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Sleman berhasil menggagalkan upaya peredaran narkotika jenis sabu di wilayahnya oleh jaringan internasional. Barang bukti senilai Rp15 miliar diamankan.

Kepala Satuan (Kasat) Reserse Narkoba (Resnarkoba) AKP Irwan mengatakan, pihaknya menyita barang bukti senilai Rp15 miliar berbentuk sabu 10 kilogram dari tangan DJP (26), warga Lampung Selatan, Provinsi Lampung dan EK (24), warga Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. Keduanya yang diduga berperan sebagai kurir itu diamankan bersama satuan Kepolisian Daerah (Polda) Lampung 21 Juli 2022.

"TKP lokasi penangkapan di Jalan Lintas Timur KM 180, Simpang Pematang, Mesuji, Bandar Lampung. Tepatnya di depan Polsek Simpang Pematang, Mesuji," kata Irwan di Markas Polres (Mapolres) Sleman, Kamis (28/7/2022).

baca juga:

Irwan menjelaskan, DJP ditangkap di dalam bus jurusan Pekanbaru-Lampung sebelum sempat menyerahkan koper biru berisi 10 kilogram sabu kepada EK yang bertugas memecah dan membagi barang haram itu ke dalam kemasan atau paket ekonomis.

"Barbuk kita amankan di Mesuji ini tersimpan di dalam koper warna biru yang di dalamnya terdapat 10 paket sabu di dalam bungkus teh cina. Masing-masing kurang lebih berat 1 kilo, jadi total beratnya 10 kilogram," urai Irwan.

Terungkapnya kasus ini sendiri, lanjut Irwan, merupakan hasil pengembangan beberapa kasus peredaran sabu di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

Sepenuturan Irwan, sabu yang dikemas ke dalam paketan ekonomis sendiri rencananya juga akan diedarkan kembali ke wilayah DIY dan Jawa Tengah. Masuk ke Pulau Jawa melalui jalur laut.

Sabu tersebut, kata Irwan, diperoleh dari Malaysia. Oleh karenanya, dia menduga DJP dan EK terlibat jaringan internasional. Meski, keduanya mengaku baru kali pertama terlibat dalam bisnis gelap ini.

"Barang ini masuk ke Indonesia melalui jalur dari Malaysia, masuk Sumatra lalu Jawa. Dari sana sudah seperti ini kemasan teh untuk mengelabui petugas," jelas Irwan.

"DJP ini dia dijanjikan seseorang yang kita masih kejar, dijanjikan mendapatkan Rp7 juta untuk (mengedarkan) 1 kilonya. EK dijanjikan dibayar dengan uang 3 juta per kilonya," sambungnya.

Dari kasus ini, selain 10 kilogram sabu yang ditaksir memiliki nilai jual Rp15 miliar, polisi turut menyita beberapa unit ponsel pintar yang dipakai DJP dan EK untuk berkomunikasi.

"Selama saya berdinas 10 tahun di sini mungkin untuk narkotika jenis sabu ini (pengungkapan) yang terbesar," klaim Irwan.

Polisi kini telah menetapkan DJP dan EK sebagai tersangka. Keduanya dikenakan Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2008 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman mati, pidana seumur hidup atau paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun penjara.

"Satu gram sendiri bisa untuk 10 orang. Berarti 10 kilogram kita behasil menyelamatkan 100 ribu generasi bangsa," tandas Irwan.[]