News

Politisi PDIP: Efek Libur Panjang Lebaran Pemicu Lonjakan Kasus COVID-19 di Jakarta

Politisi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menilai kenaikan kasus COVID-19 imbas libur panjang Lebaran 2021.


Politisi PDIP: Efek Libur Panjang Lebaran Pemicu Lonjakan Kasus COVID-19 di Jakarta
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI-P, Gilbert Simanjuntak saat ditemui redaksi AKURAT.CO di Jakarta, Jumat (15/1/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Kasus COVID-19 di DKI Jakarta mulai merangkak sekarang ini, padahal sebelumnya libur Idul Fitri 1442 H sempat menurun.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kasus COVID-19 kembali di angka 1.000 per hari, sebelumnya sempat di bawah 1.000 per hari. Kenaikan kasus ini juga terkonfirmasi dari keterisian tempat tidur di 106 rumah sakit rujukan yang sekarang ini mencapai 53 persen.

Politisi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menilai kenaikan kasus sekarang ini merupakan imbas dari libur panjang Lebaran tahun ini. Mobilitas masyarakat di luar rumah pada libur panjang tersebut turut menyumbang kenaikan kasus penyakit mematikan itu.

"Kita melihat ini efek libur panjang, dan gambarannya sekitar pertengahan Juli 2021 kita lihat apakah kasus menurun atau tetap naik," kata Gilbert ketika di konfirmasi AKURAT.CO, Kamis (10/6/2021).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berupaya membendung lonjakan corona pada libur Lebaran tahun ini mulai dari melarang mudik hingga melakukan penyekatan di perbatasan masuk Jakarta, menutup Tempat Pemakaman Umum dar kegiatan ziarah hingga melarang silaturahmi tatap muka.

Namun setelah Idul Fitri, corona klaster Lebaran justru bermunculan di Jakarta karena ketidaktaatan masyarakat. Bahkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat ada 800 klaster ditemukan pasca Lebaran. Salah satu yang paling fenomenal terjadi di Cipayung Jakarta Timur dengan total pasien mencapai 104 orang.

"Karena masyarakat sendiri sulit sekali diatur," tutur Gilbert.

Untuk menekan lonjakan corona supaya penyebaran tidak terlalu parah seperti yang terjadi sebelumnya di Jakarta, Gilbert meminta Pemerintah Provinsi DKI kembali menggencarkan kampanye penerapan 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak aman)  di tengah kejenuhan masyarakat akan protokol kesehatan.

"Yang paling baik dikerjakan saat ini adalah menekan penularan di Jakarta dan itu bisa dengan pengawasan ketat 3M," tuturnya.

Selai memperketat 3M di lingkup RT/RW, Gilbert  meminta  pengawasan di tempat - tempat tertentu yang kerap tidak terpantau seperti pasar-pasar tradisional tidak luput dipantau pemerintah.

"Daerah yang kurang diawasi seperti pasar dan pemukiman padat harus jadi prioritas (pengawasan)," tandasnya.[]

Arief Munandar

https://akurat.co