News

Politisi PAN: Jangan Samakan JK dengan Mahathir Soal Peluang Pencalonan Presiden

Politisi PAN Guspardi Gaus menilai, JK tidak bisa disamakan dengan Mahathir.


Politisi PAN: Jangan Samakan JK dengan Mahathir Soal Peluang Pencalonan Presiden
Anggota Komisi II fraksi PAN, Guspardi Gaus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). (Oktaviani)

AKURAT.CO, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dipandang bakal mengikuti tokoh senior Malaysia Mahathir Muhammad untuk menjadi calon presiden saat usianya tidak lagi muda. Anggapan tersebut menguat ketika JK kerap menyuarakan apa saja yang dikeluhkan masyarakat akhir-akhir ini.

Politisi PAN Guspardi Gaus menilai, JK tidak bisa disamakan dengan Mahathir. Pasalnya, selama ini JK merupakan sosok negarawan yang tentu mempunyai pemahaman yang jelas tentang regenerasi.

“Kalau saya menilai Bapak JK tidak akan maju lagi sebagai apakah presiden atau wapres.beliau itu kan pendukungnya Anies Baswedan dan beliau ini kan tau diri adanya regenerasi, jadi jangan disamakan antara Mahathir Muhammad dengan JK," ucap anggota DPR RI itu kepada wartawan, Minggu (22/11/2020).

Anggota Komisi II DPR RI ini menambahkan, kondisi politik di Indonesia berbeda dengan negeri jiran itu. Jadi tidak bisa disamakan dengan Malaysia. Indonesia sendiri merupakan negara republik sedangkan Malaysia menganut sistem monarki konstitusional.

“Mahathir itu menjadi Perdana Menteri Malaysia selama 22. Sedangkan Pak JK kan pada posisi wapres dari dua presiden Indonesia. Jadi jauh berbeda lah antara sosok keduanya," jelasnya.

Ia meminta supaya jangan ada persepsi bahwa JK bakal maju menjadi capres di 2024 mendatang dengan menyamakan dia dengan Mahathir Muhammad, beber Mantan akademisi UIN Imam Bonjol Padang itu.

“Jadi tidak bisa dibandingkan dan jangan punya image atau persepsi JK itu akan maju lagi menjadi orang nomor satu di republik ini. Jangan berspekulasi seperti itu," ujarnya.

"Namun demikian, semua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Pak JK yang pernah menjadi Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia tentu akan memperhitungkan secara matang tetang kemungkinan dan peluangnya untuk menjadi orang nomor satu di Republik ini," imbuhnya.[]