Olahraga

Politisasi Jersey Selecao dan Panasnya Persaingan Bolsonaro-Lula di Pilpres Brasil

Politisasi Jersey Selecao dan Panasnya Persaingan Bolsonaro-Lula di Pilpres Brasil
Kostum Tim Nasional Brasil Nomor 10 yang dikenakan Neymar menjadi atribut paling laris dalam kampanye Jair Bolsonaro pada Pemilihan Presiden Brasil 2022 di Sao Paulo, Brasil. ( TWITTER/Bookwitty)

AKURAT.CO, Dari sisi prestasi, Tim Nasional Brasil dan Tim Nasional Indonesia bak langit dan bumi. Namun, dari sisi fanatisme dan kaitan tim nasional dengan nasionalisme, barangkali Indonesia setara atau bahkan lebih dari Brasil.

Tema ini cukup penting untuk dibicarakan karena fanatisme nasionalisme yang dihubungkan dengan tim nasional sedang memanas dalam politik Brasil–semoga menjadi pelajaran bagi Indonesia.

Sejalan dengan Pemilihan Presiden Brasil pada 2 Oktober 2022 dan putaran keduanya pada 30 Oktober, timnas mereka kini menjadi prahara pencitraan. Brasil melakukan politik simbol dengan menggunakan kostum kuning-hijau tim nasional mereka yang ikonik.

baca juga:

Profesor Ilmu Sejarah Universitas Brasilia, Mateus Gamba Torres, mengatakan politisasi dimulai pada 2014 ketika para demonstran mengenakan kostum kuning dalam demonstrasi meminta pemakzulan Presiden Brasil kala itu, Dilma Rousseff.   

“Kostum itu mulai dinodai dengan makna politis sejak 2014,” kata Torres sebagaimana dipetik dari BBC.

Politisasi Kostum Selecao dan Panasnya Persaingan Bolsonaro-Lula di Pilpres Brasil - Foto 1
Ribuan demonstran mengenakan jersey Tim Nasional Brasil dalam protes menuntut pemakzulan Presiden Dilma Roussef pada 2016/Twitter-Clare Richardson.

Pada 2018, kandidat calon presiden dari sayap kanan, Jair Bolsonaro, yang menantang petahana ketika itu, Luiz Inacio “Lula” Da Silva, menggunakan kostum kuning Brasil sebagai simbol warna utama kampanyenya. Taktik itu berhasil dan Bolsonaro akhirnya mengalahkan Lula dengan dukungan sejumlah eks pesepakbola Timnas Brasil seperti Rivaldo dan Ronaldino.

“Kostum kuning-hijau Brasil telah menjadi simbol yang berhubungan dengan Pemerintah Bolsonaro,” kata Torres. “Yang artinya sebagian populasi yang baik tidak lagi merasa teridentifikasi dengannya.”

Lebih dari itu, jersey kuning milik Brasil juga sudah menciptakan kecanggungan bagi masyarakat yang ingin mengenakannya. Apalagi, tahun ini mereka bersiap untuk mendukung Selecao–julukan Timnas Brasil–di Piala Dunia Qatar 2022.

Salah seorang mahasiswa yang tidak mendukung Bolsonaro, Joao Vitor Goncalves De Oliveira, mengaku harus berpura-pura mendukung sang presiden ketika ia menyadari bahwa pemilik toko tempat ia membeli kostum tim nasional adalah pendukung Bolsonaro.

Politisasi Kostum Selecao dan Panasnya Persaingan Bolsonaro-Lula di Pilpres Brasil - Foto 2
Presiden Brasil Jair Bolsonaro ketika memberikan kostum Tim Nasional Brasil kepada eks Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 2019. TWITTER/Royal News Era.

“Pemilik toko berasumsi saya mendukung pemerintah saat ini karena saya membeli kostum (tim nasional), dan mulai mengomel terhadap kandidat sayap kiri, Lula,” kata Oliveira.

Di Brasil, perpecahan karena pemilihan presiden telah sampai ke titik mengorbankan nyawa. Pada Juli lalu, seorang pendukung Lula berusia 50 tahun, Marcelo Aloizio De Arruda, ditembak mati oleh terduga polisi pendukung Bolsonaro. Arruda disebut sempat membalas ketika penembaknya berada di satu rumah sakit dengannya sebelum tewas.

Situasi tersebut membuat warga Brasil berhati-hati mengenakan jersey kuning. Seorang programmer, Benedito Cardoso Dos Santos, misalnya, mengaku hanya mengenakan jersey kuning di rumah untuk menghindari tuduhan sebagai pendukung Bolsonaro.

Sebaliknya, pendukung Bolsonaro juga khawatir mengenakan jersey kuning di hari pemilihan karena panasnya situasi. Alesandra Passos, misalnya, mengklaim sebagai pendukung sayap kanan dan berhati-hati mengenakan kostum timnasnya di masa pemilihan.

Mengembalikan Persatuan

Bagaimana dengan pesepakbola yang saat ini berada di Timnas Brasil?

Penyerang Tottenham Hotspur, Richarlison, memilih sikap bahwa pemaknaan simbol untuk posisi politik tertentu telah memisahkan warga Brasil dengan kostum Selecao dan bendera negara mereka.

“Sebagai seorang penggemar, pemain, dan orang Brasil, saya melakukan yang terbaik untuk menyebarkan identifikasi yang kami punya dengan itu semua (kostum dan bendera) kepada seluruh dunia,” kata Richarlison.

“Saya yakin penting untuk mengakui bahwa kami semua adalah orang Brasil dan memiliki darah Brasil.”

Adapun produsen peralatan olahraga yang memproduksi kostum Brasil, Nike, menegaskan bahwa mereka berusaha untuk melepaskan identitas tertentu dari produk andalan mereka itu. “Kostum tersebut kolektif. Mewakili lebih dari 210 juta warga Brasil. Ia milik kami,” kata Nike.

Upaya tersebut tidak mudah karena sebelum pemilihan putaran pertama pada 2 Oktober lalu, bintang terbesar Timnas Brasil, Neymar, saat ini, justru memberikan dukungannya terhadap Bolsonaro.

Politisasi Kostum Selecao dan Panasnya Persaingan Bolsonaro-Lula di Pilpres Brasil - Foto 3
Penyerang Tim Nasional Brasil, Neymar sedang melakukan selebrasi usai mencetak gol. USATODAYSPORTS/Steve Mitchell/REUTERS

Dihujat oleh publik karena hal tersebut, Neymar justru membalas bahwa ia berhak punya pendapat berbeda dan menuduh para pengkritiknya sebagai pihak yang paling getol bicara demokrasi.

Putaran pertama Pemilihan Presiden Brasil belum menghasilkan pemenang karena tidak satu pun dari sebelas kandidat yang meraih lebih dari 50 persen suara sebagaimana disyaratkan oleh regulasi negara tersebut.

Lula menang dengan 48,4 persen namun ia harus bertarung di putaran kedua pada 30 Oktober dalam pacuan “dua kuda” menghadapi Bolsonaro yang mendapatkan 43,2 persen.

Sejumlah pihak memperkirakan Lula bakal menang otomatis di putaran pertama namun adanya putaran kedua membuka peluang menang untuk Bolsonaro yang dianggap memiliki karakter kepemimpinan mirip dengan eks Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.[]