News

Politikus PDIP: Potensi Terjadinya Politik Identitas Tak Tergantung 2-3 Pasang Calon

Politikus PDIP: Potensi Terjadinya Politik Identitas Tak Tergantung 2-3 Pasang Calon
Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira. (AKURAT.CO/Dedi Ermansyah.)

AKURAT.CO, Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira menilai, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 akan menimbulkan keretakan relasi politik di masa mendatang. Hal ini apabila terdiri lebih dari dua pasang calon Capres-Cawapres.

"Namun tentu ini semua sangat tergantung pada proses dialog dan deal politik elite yang akan berlangsung dalam masa pra pendaftaran Capres (Calon Presiden) atau Cawapres (Calon Wakil Presiden)," kata Andreas kepada AKURAT.CO, Sabtu (27/8/2022).

Menurutnya, potensi terjadi polarisasi terutama soal politik identitas, tidak tergantung pada dua pasangan atau tiga atau lebih pasangan yang bertarung di Pilpres.

baca juga:

Dia mencontohkan, kasus Pilkada DKI 2017 justru terjadi berawal dari tiga pasangan Cagub atau Cawagub yang bertarung di putaran pertama dan semakin meruncing justru pada putaran kedua.

"Tetapi lebih ada pada satu pasangan Capres atau Cawapres nanti, sadar atau tidak kah mereka bahwa menggunakan politik identitas di republik ini akan sangat berbahaya bagi polarisasi politik yang bisa mengarah pada keretakan sosial masyarakat bangsa ini," terangnya.

Andreas mengatakan, secara konstusional diatur bahwa Capres yang memenangkan kontestasi Pilpres harus didukung oleh 50 persen + 1. Artinya, lanjut Andreas, kalau hanya dua pasangan maka pemilu hampir pasti hanya berlangsung satu putaran. 

Dia menuturkan, anggaran Pilpres untuk putaran kedua bisa dihemat, begitu pun bangsa ini bisa lebih berkonsentrasi untuk bekerja menghadapi berbagai tantangan-tantangan lain yang tidak kalah pentingnya.

"Sehingga ini juga akan lebih mengefisienkan pembiayaan demokrasi kita dari segi finansial maupun dari segi waktu," katanya.

Selain itu, tambahn Andreas, sari segi proses politik ini juga akan lebih memudahkan pembentukan positioning pemerintahan ke depan sejak awal. 

"Karena yang memenangkan kontestasi berada di pemerintahan sementara yang kalah berada di luar pemerintahan," pungkasnya.[]