News

Polisi Soal Pelaku Klitih Salah Tangkap: Dibuktikan di Persidangan

Polisi Soal Pelaku Klitih Salah Tangkap: Dibuktikan di Persidangan


Polisi Soal Pelaku Klitih Salah Tangkap: Dibuktikan di Persidangan
Sidang kasus kejahatan jalanan yang menewaskan Daffa Adzin Albazith di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta, Selasa (28/6/2022). (AKURAT/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) angkat bicara soal pernyataan para pelaku kejahatan jalanan atau klitih yang mengklaim diri mereka sebagai korban salah tangkap polisi.

Pengakuan salah tangkap ini datang dari para kuasa hukum terdakwa yang diduga bertanggung jawab atas kematian Daffa Adzin Albazith (17), di Jalan Gedongkuning, Kotagede, Kota Yogyakarta, Minggu (3/4/2022) dini hari lalu.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mengatakan, pernyataan para kuasa hukum yang mewakili klien masing-masing itu akan dibuktikan lewat persidangan.

baca juga:

"Apakah dalam sidang itu terbukti betul tidak dia melakukan, atau salah tangkap ya nanti dari persidangan," kata Yuli di Mapolda DIY, Sleman, Selasa (28/6/2022).

Menentukan sah atau tidaknya suatu penangkapan serta penyidikan, lanjut Yuli, bisa lewat mekanisme praperadilan sebelum digelarnya sidang pertama terhadap perkara pokok. Artinya, saat ini terdakwa sudah terlambat untuk menempuh jalur itu.

"Kalau sekarang sudah bergulir sidang, tentu mekanisme praperadilan untuk penyidik Polri itu sudah tidak berjalan lagi," tegasnya.

Yuli pribadi percaya hakim pasti akan memanggil dan memeriksa jajarannya yang menangani kasus ini ketika sidang nanti apabila keterangan kepolisian memang diperlukan.

"Kalau memang hakimnya memerlukan keterangan dari polisi, pasti akan melakukan pemanggilan. Itu kan dari kepentingan peradilan, apakah hakim memerlukan keterangan polisi atau tidak kan terserah hakim," tandasnya.

Sebelumnya, tiga terdakwa kasus kejahatan jalanan yang menewaskan Daffa, yakni Ryan Nanda Saputra alias Botak (19), Fernandito Aldrian Saputra (18) dan M. Musyaffa Affandi (21) kompak membantah isi dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta, Selasa (28/6/2022).

Kuasa Hukum Ryan, Arsiko Daniwidho Aldebaran menyimpulkan analisa sementara pihaknya dan mendapati indikasi kliennya adalah korban salah tangkap. 

"Kemungkinan besar salah tangkap, error in persona," ujar Arsiko selepas sidang.

Dia mengamini isi dakwaan yang menyebut kliennya terlibat dalam aksi perang sarung di Ringroad. Akan tetapi, menurutnya, Ryan selepas dibubarkan polisi langsung pulang.

Selain itu, barang bukti senjata tajam berupa gir yang ditemukan polisi, kata dia, juga bukan milik kliennya.

"Jadi tidak ngerti dengan peristiwa di Gedongkuning, tidak pernah ke sana juga," klaimnya.

Senada, Yogi Zul Fadhli, Kuasa Hukum Andi juga menyebut kliennya sebagai korban salah tangkap polisi. Yogi berujar, dakwaan JPU kabur karena Andi tak berada di Gedongkuning pada peristiwa dini hari itu.

"Dakwaan jaksa yang seperti itu tadi bisa dikatakan dakwaan yang mengada-ngada dan tidak sesuai fakta," tutur Yogi.

JPU sendiri mengenakan dakwaan alternatif kepada total lima terdakwa dalam kasus ini. Yakni, Pasal 170 Ayat (2) ke-3 KUHP. Atau kedua, Pasal 353 Ayat (3) KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Atau ketiga, Pasal 351 Ayat (3) KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. []