News

Polisi Jerat Heriyanti Akidi Tio dengan Dua Pasal Sangkaan

Ancaman pidana di atas 10 tahun


Polisi Jerat Heriyanti Akidi Tio dengan Dua Pasal Sangkaan
enyerahan bantuan secara simbolis oleh keluarga Akidi Tio (Foto: dok. Istimewa) ()

AKURAT.CO, Pemberian sumbangan Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan (Sumsel) yang dijanjikan keluarga almarhum Akidi Tio dipastikan bermasalah. Polda Sumsel telah menetapkan Heriyanti, anak bungsu Akidi Tio, sebagai tersangka. 

"Statusnya saat ini sudah tersangka karena kita sudah mengumpulkan alat bukti yang cukup," ujar Direktur Intelkam Polda Sumsel Komisaris Besar Ratno Kuncoro, Senin (2/8/2021).

Ia menjelaskan tersangka Heriyanti dijerat dengan pasal penghinaan negara dan penyiaran berita tidak pasti.

"Akan kita kenakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946, Pasal 15 dan 16. Ancaman (pidana) di atas 10 tahun karena telah membuat kegaduhan," katanya.

Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 mengatur tentang Peraturan Hukum Pidana. Pasal 15 UU ini berbunyi "Barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya dua tahun."

Sementara pasal 16 berbunyi "Barang siapa terhadap bendera kebangsaan Indonesia dengan sengaja menjalankan suatu perbuatan yang dapat menimbulkan perasaan penghinaan kebangsaan, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya satu tahun enam bulan."

Ratno mengatakan penyidik masih mendalami motif yang melatarbelakangi Heryanti bertindak demikian. Selain itu, penyidik juga mendalami seberapa jauh keterlibatan Hardi Darmawan, dokter pribadi keluarga Akidi yang menjadi perantara dalam pemberian bantuan secara simbolis kepada Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri.

Heriyanti sendiri sudah dijemput penyidik Polda Sumsel untuk menjalani pemeriksaan. Begitu juga dengan Hardi Darmawan.

"Tim yang dibentuk Kapolda Sumsel sudah bekerja sejak Senin, saat bantuan diberikan secara simbolis. Penyidik menggunakan data IT dan analisis intelejen untuk menyelidiki hal ini. Setelah yakin bahwa unsur pidana sudah terpenuhi, kita lakukan penindakan," tutur Ratno saat bertemu Gubenur Sumsel dengan Gubernur Herman Deru di Kantor Gubernur Sumsel.[]