News

Polisi di Pancoran Dituding Nodai Presisi Polri

Pelapor menduga kasus penipuan yang dialaminya dijadikan ATM pribadi


Polisi di Pancoran Dituding Nodai Presisi Polri
Ilustrasi polisi tangkap narapidana kabur (ANTARA FOTO)

AKURAT.CO, Inti dari Presisi Polri adalah transparan dan adil dalam menangani kasus. Program mulia yang dijanjikan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo ini tentu tidak akan berhasil bila ternodai perilaku anggota Polri yang tidak profesional.

"Saya mengalami kekejian proses hukum. Saya dizalimi dan terus-terusan diperlakukan secara buruk oleh oknum penyidik, di mana kasus yang saya laporkan dijadikan ATM pribadi," kata Bambang Djaya, warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, kepada wartawan, Minggu (15/52022).

Sebagai korban Bambang mengaku dipingpong dan dipermainkan. Bambang melaporkan penipuan oleh NS dari PT BPM ke Polsek Pancoran pada 16 Juni 2020 namun hingga kini berkas perkaranya tak kunjung lengkap atau P21. 

baca juga:

"Saya menduga Aiptu Pnt bersama tersangka bersepakat melakukan rekayasa, dan berupaya menghentikan kasusnya," kata dia.

Bambang menengarai rekayasa hukum dan praktik menjadikan sapi perah atau ATM pribadi terhadap dirinya dan tersangka terjadi sejak laporan dibuat. Bukannya memproses hukum terlapor, kata dia, tiba-tiba di bulan Mei 2022 ini dirinya mendapat Surat Pemanggilan Sidang dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas perkara tindakan melawan hukum.

Bambang menyebut gugatan perdata sebagai upaya NS yang sejak 2021 ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan untuk mengintervensi proses hukum di Polsek Pancoran.

"Yang jadi tergugat adalah saya dan Polsek Pancoran. Aneh. Saya menduga ini rekayasa yang dilakukan Aiptu Pnt bersama tersangka NS," tuturnya.

Bambang menceritakan beberapa saat setelah dilakukan penahanan, istri NS mendatangi Polsek Pancoran dan menyampaikan bahwa kerugian yang dialami dirinya yakni Rp 810 akan dibayar dengan mencicil.

Istri NS berjanji untuk tahap pertama akan dibayarkan Rp 400 juta. Sisanya, yakni Rp 410 juta akan dilunasi dalam jangka waktu 2 bulan setelah menjual tanah dan tambang tersangka NS yang katanya ada di Garut dan di Sukabumi, Jawa Barat.

Namun, lanjut Bambang, hingga saat ini dirinya hanya menerima pengembalian Rp 250 juta dimana uangnya dikuasai oleh Aiptu Pnt.

"Seterusnya hanya janji-janji kosong baik lisan maupun tertulis yang disampaikan langsung kepada penyidik polsek Pancoran. Dan sampai sekarang, sejak April 2021 tidak ada lagi pembayaran. Semua bohong dan ingkar janji," tambahnya.

Bambang mengatakan Aiptu Pnt selaku penyidik selalu melakukan penahanan terhadap NS namun tidak dilakukan penahanan di dalam sel. Namun hanya dibiarkan berkeliaran di sekitar mushola. Saat istrinya datang berkunjung, NS kembali dilepaskan. Begitu berkali-kali terjadi selama dua tahun.

Bambang mengatakan sudah 23 bulan atau empat kali pergantian Kapolsek dan Kanit Reskrim ganti kasus yang dilaporkannya tidak kunjung tuntas. Yang semakin terasa aneh lagi, lanjutnya, sejumlah dokumen dan surat-surat aset tersangka dipegang dan dimiliki oleh Aiptu Pnt. 

Bambang menduga Aiptu Pnt dan tersangka NS membuat perjanjian dan kesepakatan tersendiri secara diam-diam. Dia juga menyebut perilaku Aiptu Pnt dan tersangka beserta kawan-kawannya dapat dikategorikan sebagai upaya dengan sangat sengaja untuk menghalang-halangi proses penyidikan dan proses penegakan hukum.

"Saya berharap Pak Kapolda Metro Jaya, Pak Kadiv Propam Polri dan jajaran, serta Pak Kapolri Listyo Sigit segera menindak tegas bawahan seperti itu, dan segera menyelesaikan kasus pidana penipuan yang saya alami. Mohon beri hukuman berat, jangan sampai masyarakat tidak percaya dengan Program Presisi Polri," 

Kapolsek Pancoran Kompol Rudiyanto ketika diminta tanggapan memngaku tidak mengetahui persis kasus sebab belum lama menjabat sebagai Kapolsek.

“Silakan ke Waka saya ya, AKP Sudarto. Biar ditelusuri kasusnya. Sebab sudah lama, kasus itu terjadi sebelum saya menjabat sebagai Kapolsek Pancoran,” ujar dia.

Kompol Rudiyanto pun mengarahkan wartawan untuk meminta penjelasan kasus itu kepada Wakil Kepala Polsek Pancoran (Waka Polsek) AKP Sudarto. Sedangkan Wakapolsek Pancoran, AKP Sudarto yang dihubungi wartawan tidak memberikan respon.[]